Buku Harian

3 Kunci Sukses Kelola Bisnis 346 Tahun Ala Chairman Merck KGaA

Mengelola bisnis 346 tahun bukanlah hal mudah. Turun temurun, teknologi silih berganti, kemajuan industri yang begitu pesat dan serangan kemajuan dari negara China menjadikan semuanya itu tantangan dan hambatan yang harus dipecahkan oleh semua perusahaan di dunia ini.

Merck berbagi prinsip survivalnya dan kali ini Chairman Merck KGaA, Frank Stangenberg-Haberkamp berbagi 3 kunci utama mengapa Merck bisa bertahan sampai sekarang dan menjadi perusahaan yang kuat tanpa gonjang ganjing keluarga sampai generasi ke 11.

Kunci Pertama adalah Perusahaan yang utama. Apapun yang terjadi, kepentingan perusahaan harus didahulukan. Saat kami memutuskan untuk masuk ke pasar saham tahun 1995, kami mendapat 2,5 milliar mark Jerman, tetapi tidak sedikitpun diambil oleh keluarga. Semuanya dipakai untuk memperkuat perusahaan. Jadi, bagi kami, yang terpenting bukan kepentingan keluarga, tetapi kepentingan perusahaan.

Nilai kedua yang ditanamkan adalah menjaga agar keluarga tetap hidup sederhana. Kami tidak hidup bermewah mewah dengan jet pribadi, Ferrari, yacht, pengawal pribadi, atau yang semacam itu. Mobil termewah yang kami miliki adalah Mercedes E Class. Hidup sederhana sudah menjadi budaya keluarga. Ketika anak saya kuliah, dia tidak saya belikan mobil. Anak saya protes, tetapi saya bilang, kalau mau pakai mobil, belilah pakai uangmu sendiri. Bekerjalah. Nanti kalau kurang, baru saya tambah.

Nilai ketiga, kami tidak membiarkan anggota keluarga yang tidak berkualitas bekerja di perusahaan kami. Kami bukanlah tipe perusahaan dimana sang ayah yang membangun perusahaan itu, lalu anaknya yang akan menjadi manajer utama. Ada banyak orang dengan talenta bagus diluar sana yang bisa kami rekrut untuk memgembangkan perusahaan ini.

Berapa banyak yang mampu melakukan nilai pertama, bahwa perusahaan lebih utama dari keluarga? Berapa banyak yang mengambil uang hasil penjualan saham untuk dinikmati keluarga atau diinvestasikan ke perusahaan lainnya ?

Berapa banyak yang mampu menahan napsu tidak hidup bergelimang dari hasil penjualan sahamnya dengan membeli barang barang super mewah ? Jangankan Mercedes E Class, banyak yg memiliki jet pribadi dan puluhan mobil mewah yang diproduksi secara terbatas.

Berapa banyak perusahaan publik yang justru disiapkan untuk anaknya yang belum tentu setangguh ayahnya atau founder, mereka dijadikan pimpinan karena trah dan ‘the right last name’ ?

Bahwa hidup mewah dengan memiliki seluruh ‘dunia’ yang ia mampu beli tidaklah salah, apalagi itu uang sendiri. Tidak salah juga menyiapkan anak cucu menjadi boss di perusahaannya, apalagi kalau lebih mumpuni. Yang tidak benar adalah kalau itu menggunakan uang perusahaan, dengan teknik akuntansi pembiayaan yang canggih sehingga perusahaanlah yang membiayai gaya hidup jet set mereka. Ini jelas melanggar etika, kalaupun secara legal dapat dipertanggung jawabkan.

Hidup memang bukan soal boleh tidak, tapi pantas tidak. Wajar tidak dan benar tidak.
Sumber: Kompas Cetak

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s