Buku Harian

Gojek investment

Dana investasi yang telah diinjeksi ke Go-Jek sejauh ini sudah mencapai angka di atas $100 juta atau sekitar Rp1,4 triliun dengan kurs Rp14.000/dolar AS. Seorang fund manager senior yang berada di lingkaran investor Go-Jek bahkan menyebut angka lebih fantastis lagi, sekitar $150 juta atau sekitar Rp2,1 triliun.

Komen:

  • Yup benar investor beli data bukan hanya profit sesaat malah satu data berisi email, alamat dan id CC ditingkat affiliate berharga dengan kisaran 9-36$ tergantung negara, lihat saja gojek 5juta installer 40% nya masukkan CC sebagai aktif user…. valuasi kasarnya dah kelihatan
  • yg dicari investor adalah investasi jangka Panjang yaitu Exit-nya (IPO atau akuisisi), mereka berani invest besar krn duitnya banyak dari hasil IPO investasi startup sebelumnya, contoh kecil Alibaba, ini persh dulu dpt dana investasi $20 juta dari softbank, dan skrng bisa kita lihat begitu IPO alibaba, softbank dpt kucuran dana segar Milyaran Dollar dari nilai penjualan saham Alibaba saat IPO.

    tapi ya begitu kalo mau jadi investor startup harus SABAR meniunggu 5-10 tahun ke depan, tergantung progress persh tsb juga sih, namanya perusahaan start up ibarat membesarkan anak sendiri gak perlu itung2an jangka pendek,tapi investasi masa depan, “balik modal”-nya kalo anak kita sudah sukses dan membanggakan ortu hehehe….

  • saat ini bisnis tsb keuntungannya bukan uang…tapi jaringan manusia baik sopir, pelanggan dan datanya…… itu lebih mahal
Standard
Buku Harian

Black Hawk Return to Base

Return to base adalah istilah di dunia penerbangan, yang menyatakan pesawat/heli perlu kembali ke tempat awal dia lepas landas karena suatu hal yg urgent.

Saya menggambarkan istilah ini seperti saya yg pulang kampung untuk merubah konsep bisnis karena yg selama ini kurang dapat diterima pasar atau lebih dikenal dengan istilah pivot dlm dunia start up.

Bisnis tidak selalu gagal total, terkadang hanya konsep how to deliverd to the real market saja yang kurang tepat. Contoh, waktu dulu kuliah saya berjualan susu murni ke rumah- rumah dengan cara diantar. Analisa dan konsep marketing saya menekankan pada konsumsi susu masyarakat Indonesia yg masih rendah, sudah begitu yg dikonsumsi lebih banyak susu bubuk lagi bukannya susu cair murni.

Saya sebarkan brosur dengan menekankan daya serap susu yg rendah itu berakibat pada bla, bla,bla…. . Nyatanya gagal. Disitu saya belajar to change market culture/behavior itu tidak mudah, karenanya lebih banyak pengusaha yg surfing di atas market behavior untuk menuai keuntungan walaupun behavior masyarakatnya itu mungkin sebetulnya salah.

5 Tahun setelah saya gagal berbisnis susu, muncul anak muda lainnya yang berjualan susu. Melihat dari titik permulaan yang sama, yaitu daya serap susu di Indo masih rendah, harga susu di petani yg murah maka dia pun memulai bisnis susu, sama seperti titik awal saya melihat prospek bisnis ini.

Yang membedakan hanya bagaimana susu itu dipasarkan ke market, dia menarget mahasiswa dan memberi aneka macam rasa. Susu dengan target market mahasiswa dan menjualnya dengan meningkatkan life style, tempat nongkrong yang asyik dan gaul. Membrandingnya dengan social media yang ketika itu sedang gelombang pertama ramai-ramainya di Indo. Dan hasilnya booommm….

Bukan tentang produknya, tapi bagaimana kita menarget segmen dan mengemasnya. Kalau berpikir produk pasti ada saja yg butuh tapi sekedar butuh tidak akan menciptakan gelombang demand yg besar.

Begitu sy melihat barrier yang saat ini saya hadapi, ada yg kurang tepat dalam mengemas dan mendeliverd konsep ke market. Dari pada mendikte market, lebih baik mengikuti konsep yg market inginkan. Untungnya ada salah satu loyal customer yg memberi masukan berharga ini, sehingga proses evaluasi tidak berlangsung lama. So..Black hawk return to base untuk merubah dan memperbaiki konsep bisnis.

Standard
Buku Harian Wordpress

Tergeted Customer itu Mahal Jendral!!!

Seminggu ini mulai berexperiment dengan Adwords. Dan damn shitt… mahalnya traffic itu. Saya set ke ads untuk search ads yang hanya tampil dihasil pencarian Google. Set ADS dua buah, yang satu dengan Max CPC di 1500 dan yang satu di 7000. Yang 7000 lebih baik rata-rata posisinya, bisa di satu koma sekian dan selalu kena limit harian.

You tau ini keyword yang peminatnya nggak banyak dan susah generate money dari keyword ini. Rata-rata pesaing web ini adalah situs besar yang kemungkinan besar mereka juga nggak dapet uang langsung dari konversi iklan ini, tapi hanya untuk membranding situs ecommerce mereka.

Dan saya ikut bermain di keyword tersebut padahal saya kira persaingannnya rendah. Kembali lagi ke masalah set Ads, masing-masing Ads saya set keywordsnya tidak sampai 20 padahal minimal jumlah keyword yang dianjurkan adalah 20. Kenapa tidak banyak? Karena saya hanya ingin yang benar-benar mengena, bukan untuk branding.

Impactnya tidak ada setelah campaign di adwords. Ada beberapa kemungkinan:

  1. Budget iklannya terlalu kecil padahal pesaing di adwords utk keywords tersebut kakap semua.
  2. Pasar yang dituju untuk transaksi memang terlalu kecil juga.
  3. Orang tidak yakin dengan layanan kita.

So,,, kalau kita mau berjualan online entah itu services or goods dengan budget terbatas maka mengandalkan traffic dari iklan CPC adalah salah jika tidak dipikir convertion-nya dari awal. Budget iklan berapa dan profit per pertransaksi berapa, sehingga didapat target berapa penjualannya.(TEORI!)

Nyatanya mayoritas usaha kecil tidak memulai dari hitung-hitungan seperti itu, dan ketika sudah mulai beriklan baru deh ketemu masalahnya 😀 😀 😀

So,, another path is BUILD your own ORGANIC TRAFFIC. Organic traffic yang kadang nggak bernilai, apalagi jika dipasang adwords berisi advertiser Indo yang nilai CPC-nya hanya sekain penny saja mungkin bisa kita maksimalkan dengan berjualan. Memancing potential customer dengan knowledge, dan targetkan sekian persen dari mereka untuk berbelanja.

Costnya adalah untuk create content, tapi yang jelas content berkualitas bukan hanya seperti website kacangan copas. Dengan begitu akan muncul trust dari visitor.

Sebagai gambaran periode Mingguan saat ini dan estimasi menurut perhitungan google:

  • Saat ini budget Rp 707.000 menghasilkan 198 clicks
  • Estimasi jika diturunkan jadi 527.000 hanya akan menghasilkan 149 clicks
  • Estimasi jika dinaikkan jadi 1.257.000 hanya akan menghasilkan 358 clicks
  • Estimasi jika dinaikkan jadi 1.907.000 hanya akan menghasilkan 528 clicks

Itu biaya perminggu. Imagine hampir dua juta perminggu hanya menghasilkan 528 potential buyer,,,,, potensi belum real buyer. Berapa persen dari potensi itu yang bisa nyantol ke transaksi? Berapa profit yang harus di set pertransaksi? Kalau sudah begini jika dipikir, piramida tertinggi dalam bisnis ecommerce adalah……….. Penyedia platform iklan. That’s way,, seiring dengan naiknya aktifitas ecommece suatu negara, di situlah mbah Gugel memanen hasil.

So itulah kenapa Project Loon bersedia membangun internet di Indonesia gratis…. (Kok jadi melebar gini pembahasannya) 😛

Standard
Buku Harian

Review pilem Bridge Of Spies

Sudah lama nggak pergi ke bioskop, terkahir film yg ditonton dulu Raid 2. Kali ini mumpung kerjaan tahap pertama udah selesai setelah intensive 4 minggu lebih lembur, lebih dari 10jam dalam sehari mantengin layar laptop akhirnya butuh refrshing. Pergi nonton lah kali-kali.

Pada awalnya tertarik nonton Efrest, tapi pas lihat review film bridge of spies malah jadi condong ke film ini. Pertimbangannya sederhana, karena dibintangi Tom Hanks dan kedua karena diangkat dari cerita sejarah.

Mau tau kisah lengkapnya? Baca aja reviewnya di web cineplex 21. Tapi yang jelas film ini bukan film aksi, beda antara film ini dng The Negotiator walau inti kedua film tsb adalah tentang negosiasi disini lebih ke arah diplomasi kenegaraan, anatara Soviet dan US.

Tapi walaupun begitu film ini sama sekali tidak membosankan karena alur ceritanya menarik. Setelah nonton film ini sy jadi tertarik untuk belajar sejarah pecahnya Jerman dan Polarisasi negara eropa ketika perang dunia dulu.

Dari film Bridge of Spies ini kita bisa tau walaupun Jerman Barat adalah negara demokrasi namun kedaulatannya tidak langsung diakui Oleh US. Bagaimana Jerman Timur berkiblat ke Soviet tapi nyatanya soviet juga tidak ada hubungan erat dengan Jerman Timur. Kita bisa tau juga siapa orang Amerika yg diutus oleh presiden Amerika saat itu ke kuba untuk bernegosiasi dengan Fidel Castro, padahal Kuba dan US bersebrangan.

Yang jelas ketika berbicara kisah tentang counter komunisme maka CIA akan terlibat begitu juga di film ini. Mungkin suatu saat Steven Spielperg sang sutradara juga akan mengangkat kisah penggulingan Presiden Sukarno oleh Soeharto yang juga di dukung oleah CIA seperti sejarah yg diulas pada film ini?

Standard
Buku Harian

Telanjang Bulat Dengan Gugel Analytics

Dari tahun 2010 sudah kenal yg namanya gugle analytic. Di tahun 2011 orang gugel asia pacific(org India berkepala plontos) juga presentasi di IDByte 2011 ttg analytic. Males aja pakainya karena sy tau selain menguntungkan kita itu juga menguntungkan gugel, karen gugel bener2 tau karakter dan habit dari web visitors kita.

Untungnya buat kita, selain kita juga tau detail ttg habit visitors google juga akan lebih percaya kita krn semua datanya terbaca guugle. Dampaknya kalau kita bermain white hat, serp kita jg bisa lebih baik karena reputasi baik kita(#opini).

Nah selama ini saya jarang melihat analytic, counter dari histasts sy rasa sdh cukup walau datanya tidak selengkap analytic. Daily visitors, rasio jmlh halaman perkunjungan, rata2 lama kunjungan juga disajikan oleh histats.

Tapi saya agak berpikir konversi aksi(sell/buy product) ke web kok kecil tidak sesuai dengan jumlah daily visitors. Setelah ditelusuri dng analytic ternyata yg masuk ke halaman yg ditargetkan tidak terlalu besar.

Sebenarnya tidak salah juga karena jika di research dng keyword planer, volume kata kunci tersebut perbulannya juga tidak terlalu besar.

Jadi analytic bener2 bermanfaat,, memang tidak terbantahkan selama ini tapi anda seperti membuka baju, celana, celana dalam atau bh ke pihak google. #ampun

Standard
Buku Harian

Mata Uang Baru Itu Bernama Data – KOMPASIANA.com

Penulis: Hilman Fajrian.

Di tahun 2004-2007 Google disibukkan dengan rencana mengembangkan bisnis mereka ke bidang telepon selular (ponsel). Google telah memprediksi bahwa ponsel adalah masa depan komputasi. Sehingga mereka ingin memproduksi ponsel untuk menyaingi para raksasa saat itu: Nokia, Blackberry, Sony Ericsson dan Motorola. Ditambah, Google mengendus bahwa Apple akan segera merilis ponsel revolusioner yang kini kita kenal dengan nama iPhone.Memproduksi ponsel bukan hanya soal menciptakan perangkat kerasnya (hardware), tapi juga sistem operasinya (operating system-OS). OS ponsel saat itu hanya 3: Symbian, Microsoft Mobile dan Blackberry. Hanya Symbian yang open source. Namun pengembangan Symbian oleh Symbian Foundation dibiayai oleh Sony Ericsson, Samung, Motorola dan Nokia. Kalau Google ikut ke Symbian, sama juga bohong.Bukan Google kalau tidak berpikir out of the box. Dalam sebuah rapat, CEO Google Eric Schmidt berkata, “Kita tidak akan membuat ponsel. Tapi membuat sesuatu yang akan digunakan di semua ponsel.” Artinya, alih-alih memproduksi brand baru ponsel untuk menyangi brand lain, Google akan menciptakan OS yang bisa dipergunakan semua ponsel di seluruh dunia.Hoki Google sedang terang. Tahun 2005 mereka dipertemukan dengan Andy Rubin, pengembang OS Android, yang sedang kekurangan duit. Google membeli Android sekaligus Rubin sebesar $50 juta. Android adalah OS ponsel berbasis Linux yang open source dan gratis. Dengan Android sebagai senjata, Google memulai perangnya di bisnis ponsel dan kini berhasil menjatuhkan para raksasa lama. Diluncurkan resmi tahun 2010, kini Android adalah OS ponsel yang paling banyak digunakan di dunia. Ia terpasang di 1,6 miliar lebih ponsel, melampaui iOS dengan 628 juta. Karena Android lah sekarang kita bisa menikmati smart phone dengan harga bahkan di bawah Rp1 juta. Karena ia gratis sehingga setiap produsen smart phone bisa menekan biaya produksi serendah-rendahnya. Karena Android bermunculan produsen smart phone, termasuk di dalam negeri. Bahkan demi Android, Google membeli Motorola (yang beberapa waktu lalu dijual lagi).Kalau Android gratis, darimana Google untung?ERA KAPITALISASI DATAPonsel adalah perangkat komputasi yang sudah jadi bagian hidup sehari-hari orang banyak. Hadapi kenyataan ini: ponsel anda lebih tahu siapa anda dibandingkan diri anda sendiri.Ponsel adalah mesin tambang emas. Emas itu adalah data anda. Data ini tidak sekedar nama, gender, usia dan lokasi yang datanya anda masukkan ketika registrasi akun untuk mengakses Android (atau iPhone). Google tahu hobi dan perilaku anda dari aplikasi yang anda install dari Playstore. Mereka bisa secara presisi tahu lokasi anda dan tempat-tempat yang anda kunjungi lewat GPS untuk membaca minat anda.Semua situs yang anda kunjungi lewat ponsel akan terekam dan dibaca datanya untuk mengidentifikasi ketertarikan anda. Lewat email yang masuk ke ponsel, Google bisa tahu pekerjaan, relasi dan minat. Bahkan, bila anda sudah memakai Google Wallet yang bisa digunakan sebagai alat pembayaran ke mesin EDC dengan cara tapping, Google tahu berapa pengeluaran anda dan dimana anda berbelanja.Data-data ini masih ditambah dengan data yang mereka dapatkan ketika anda menggunakan perangkat komputasi lain, PC contohnya. Kebetulan browser paling banyak dipakai adalah Google Chrome yang disinkronkan dengan akun Google anda. Situs apa yang anda kunjungi, berapa lama anda bertahan di situs tersebut, aktivitas apa yang anda lakukan, Google tahu. Mungkin terdengar mengerikan, tapi itulah kenyataanya.Apa yang akan Google lakukan ketika semua data kita (dan miliaran user lain) mereka pegang?Menjual data itu ke pengiklan.Google adalah biro iklan terbesar di planet ini. Nama produknya adalah Adsense. Pendapatan Google dari Adsense tahun 2014 adalah $59 miliar atau Rp826 triliun. Hampir separuh APBN Indonesia 2014 yang sebesar Rp1.800 triliun itu.Bagaimana data-data itu bisa berguna bagi pengiklan?Setiap pengiklan atau pemilik brand ingin agar setiap iklannya disaksikan oleh calon konsumen yang sesuai dengan target pasar mereka. Misal, brand mobil akan sia-sia mengiklankan diri mereka kepada orang yang beli sepeda motor pun tak sanggup. Karena periklanan konvensional tak bisa memenuhi kebutuhan micro targeting, maka dilakukankan periklanan dalam bentuk broadcast. Memasang billboard tepi jalan misalnya. Misal, dari 1 juta orang yang melihat iklan itu per hari, hanya 30% yang mampu beli mobil, atau hanya 10% yang sedang berencana beli mobil. 70% sisanya sia-sia. Bila tarif memasang iklan tepi jalan itu Rp300 juta/bulan dan hanya bisa mendatangkan 100 pembeli/konsumen, maka nilai akusisinya adalah Rp3 juta per konsumen. Alangkah mahalnya.Mahalnya nilai akuisisi ini karena pengiklan turut menghabiskan uangnya menampilkan iklan kepada audien yang bukan segmen pasar mereka. Ini bukan disengaja, tapi tak ada jalan keluar untuk micro targeting. Sampai Google menyediakan Adsense. Dengan Adsense, selain micro targeting, pengiklan bisa membayar sesuai kebutuhan. Misal, mereka

Source: Mata Uang Baru Itu Bernama Data – KOMPASIANA.com

Standard
Buku Harian

Selamat Tinggal Teknologi Informasi, Selamat Datang Teknologi Data

Penulis: Hilman Fajrian

Tahukah Anda, 47% penjualan di Amazon.com — toko paling besar di planet ini — berasal dari penjualan item yang ditampilkan pada bagian Recommended Product. Fitur ini terletak di bagian bawah deskripsi produk yang sedang kita lihat. Ia berbentuk barisan produk-produk yang direkomendasikan oleh Amazon kepada kita. Tanpa fitur ini Amazon tidak sebesar seperti yang kita kenal sekarang.Fitur Recommended Product terdengar simpel bagi kita, terutama para pengembang web. Seorang siswa SMP saat ini sudah bisa membuat website. CMS (seperti WordPress, Joomla, Drupal, Magento dll) dan template, termasuk untuk ecommerce tersebar dimana-mana. Di dalamnya pun sudah ada fitur Recommended Product. Template yang nyaris seperti Amazon juga sudah banyak. Tinggal pasang, jalankan.Sesederhana itu?Apakah kalau kita bikin toko online dengan fitur Recommended Product maka kita bisa menyontek kesuksesan Amazon?Tidak.Yang berada di belakang fitur Recommended Product Amazon adalah sebuah learning machine dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI) yang super kompleks. Ia membaca perilaku kita selama berada di dalam toko yang ditunjukkan lewat klik dan di bagian mana kita banyak berfokus (heat map). Data ini disinkronkan dengan data profile kita, lokasi, kegemaran, pekerjaan, pendapatan, perilaku media sosial, dll. AI ini tak hanya mencoba memahami siapa kita, tapi juga (jutaan) pembeli lain yang punya perilaku atau profil mirip kita. Data-data ini diolah dan disinkronkan. Output-nya adalah Recommended Product yang tujuannya adalah menawarkan barang yang tepat kepada orang yang tepat berdasarkan data orang itu dan data jutaan orang lain.Information Technology (IT) atau teknologi informasi adalah ketika Anda (atau seorang anak SMP) membuat sebuah website seperti Amazon untuk melayani orang lain. Data Technology (DT) atau teknologi data adalah ketika Anda menggunakan data untuk memahami orang lain.IT adalah mesin yang menjalankan otomatisasi untuk melayani manusia. Ia bersifat self-control dan self-management. IT membuat manusia berperilaku seperti robot. IT adalah sesuatu yang; I have, you don’t have.DT adalah mesin yang dibuat untuk memahami manusia. Ia menstimulasi produktivitas manusia dan melayani banyak orang. DT membuat robot berperilaku seperti manusia. DT adalah sesuatu yang; You have, I don’t have.Era IT sudah lewat dan tak lagi cukup. Sama seperti bisa membuat sepeda tidak lagi cukup, tapi harus membuat sepeda yang bisa berjalan sendiri — sepeda motor. Selamat datang di era DT.MEMAHAMI BIG DATASering kita dengar sebutan Big Data dan orang-orang mengatakan ia sangat penting. Saya akan coba bantu Anda memahaminya.Rata-rata komputer personal di tahun 1980-an hanya bisa memproses data dalam bentuk sangat sederhana: teks, angka, gambar dan string (simbol). Ia juga stand-alone atau berdiri sendiri. Untuk memindahkan data ke komputer lain dilakukan lewat floppy disk.Di tahun 1990-an, data yang bisa diproses makin banyak: audio dan video. Data sudah bisa dipertukarkan dalam sebuah jaringan yang terdiri dari beberapa komputer. Kemudian kita kenal internet. Pertukaran data menjadi masif dari semua pengguna komputer di seluruh dunia.Revolusi komputasi di tahun 2000-an adalah ketika komputer makin kecil sekaligus makin cepat memproses data. Kita kenal dengan nama gawai atau gadget: smart phone, tablet, wearable device, iPod, dll. Semuanya terhubung ke internet dimana data saling dipertukarkan. Komputer tak lagi digunakan manusia untuk bekerja seperti tahun 80-90-an. Ia jadi perangkat kebutuhan sehari-hari untuk komunikasi, hiburan, kesehatan, informasi dan gaya hidup. Orang saat ini terhubung ke internet bukan lagi hanya untuk mengakses data dari penyedia data di masa lalu seperti membaca situs berita. Tapi semua orang menciptakan data dalam bentuk update di media sosial, blog, wiki, forum, dll.Inilah bentuk-bentuk data yang diciptakan, disimpan, diolah dan dipertukarkan di era ini: teks, angka, string, gambar, audio, video, geospacial hingga sensor.Data-data ini diciptakan dan ditransaksikan oleh semua manusia pengguna perangkat komputasi, kita semua. Ia tak hanya berupa data yang kita transaksikan secara sadar, meng-update wall di Facebook misalnya. Tapi juga mentransaksikan data yang dibuat secara tidak sadar, antara lain: lokasi, perilaku saat mengakses internet atau media sosial, aplikasi yang kita gunakan dan perilaku kita atas aplikasi tersebut, sampai pola hidup kita yang direkam wearable device. Pada tulisan saya berjudul Mata Uang Baru Itu Bernama Data telah disampaikan bahwa ponsel kita lebih kenal siapa diri kita dibanding diri kita sendiri.Setiap hari, seluruh perangkat komputasi yang digunakan manusia menciptakan 2,5 quintiliun byte data, atau 2,5 x 10 pangkat 18, atau 2,5 triliun triliun. Dan tahukah Anda, dari seluruh data komputasi yang tersimpan sejak komputer ditemukan hingga hari ini, 90%-nya adalah data yang diciptakan 2 tahun belakangan.Bila setiap hari ada 2,5 quintiliun byte data yang ditransaksika

Source: Selamat Tinggal Teknologi Informasi, Selamat Datang Teknologi Data – KOMPASIANA.com

Standard
Buku Harian, economy

Karena Marketnya Memang Ada

Om BP berjualan BM second dengan harga yang lebih mahal dari harga pasaran. Tapi tetap laku, kenapa?

  1. Karena pasar fanatik terhadap produk BM memang ada.
  2. Karena reputasi om BP dikalangan pencinta BM sudah terbentuk.

Sebenarnya bukan bagaimana menjual barang dengan harga termurah, tapi menjual barang yang terjamin karena reputasi si penjualnya. Dua alasan di atas adalah hal yang masuk akal dan saling menguatkan, walaupun alasan harga murah lumrah menjadi salah satu pertimbangan customer tapi dalam hal ini ada segmen yang tidak mementingkan selisih harga dan lebih mementingkan kualitas barang karena dijual oleh orang yang memiliki reputasi.

So,, reputasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjual. Reputasi menjadi tool untuk meleverage penjualan, lalu pertanyaannnya bagaiman membangun reputasi ketika menjual?

  1. Reputasi butuh waktu, sharing kebaikan kita dalam satu bidang. Dengan begitu perlahan reputasi akan terbentuk.
  2. Uang. Uang di sini bukan untuk branding, ini bukanlah perusahaan besar yang punya dana bezaarrrr untuk iklan agar produknya laku. Uang di sini untuk membangun infrastruktur bisnis agar si pemilik bisnis benar-benar terlihat serius dibisnis ini.
    He’s build garage, showroom and website sehingga orang yang melihat benar-benar terkesan dengan bisnisnya. Ujung-ujungnya reputasi.

Hal sederhana seperti ini yang perlu saya tiru. REPUTASI.Apakah itu equal dengan brand awarness pada merek-merek mahal? Sepertinya iya. Kalau sudah punya reputasi pasar akan mengenal dan datang. Bahkan Niche marktet yang disasar om BP pun bisa menghidupi bisnisnya.

Pasar Indonesia begitu besar. Niche merket pun cukup untuk sebuah skala bisnis kecil karena pasar keseluruhannya cukup besar.

Lalu, BAGAIMANA SAYA MEMBANGUN REPUTASI?

Standard
economy

Hot to Impresse

To impress startup competition juries, create fancy features and fancy story.
To impress investor, show amazing growth projection.
To impress co-founder, be true to your vision and show commitment
To impress employees, give opportunities and reasonable compensation
To impress journalist, create bombastic news. Controversial is preferred
To impress customers, address the pain points and always deliver the promise

Choose wisely who you want to impress. Resource is limited and sometimes, wrong choice may lead to dead end

From: Facebook Radita L.

Standard