Buku Harian Kehidupan

Usia Mobil Sudah 10 tahun. Lalu?

Tahun ini gerobak besi berwarna Cokelat genap berusia 10 tahun. Sebenarnya si Cokelat termasuk jarang di pakai sehingga jika dirata-rata per tahun-nya tidak sampai menempuh jarak 10.000 kilometer. Sehingga jarak tempuhnya termasuk low.

Namun berhubung setahun terakhir si Cokelat dipakai untuk mencari nafkah maka dalam jangka waktu kurang dari satu tahun jarak tempuhnya sudah bertambah sekitar 20.000 kilometer. Saat ini di umur yang ke 10 Odometernya mencapai angka 105.000 kilometer.

Walaupun tergolong tidak tinggi namun yang namanya benda bergerak sehingga beberapa komponen juga memerlukan penggantian. Walaupun belum mendesak alias tidak urgen namun setidaknya saat ini ada beberapa bagian yang perlu diremajakan.

Itu belum termasuk beberapa komponen part yang sudah pernah diganti terlebih dulu, seperti satu set ban sudah ganti dua kali, kampas rem, karet support shock dan shockbreaker depan. Tidak termasuk komponen fast moving seperti filter udara, busi dan filter oli.

Berikut rincian beberapa part yang sudah perlu diremajakan di usia yang menginjak angka 10 tahun:

  • Kopling set + jasa: Rp 2.000.000
  • Kaca film full Sunguard: Rp 800.000 / kaca samping kiri saja Rp 150.000
  • Aki Amaron: Rp 1.100.000
  • Thermostat: Rp 250.000
  • Pajak tahunan: Rp 1.400.000

Total: Rp 5.550.000

Lalu bagaimana Jual atau Pakai terus?

Setelah 10 tahun gimana, akan dijual atau dipakai terus? Tergantung proyeksinya ke depan.

  • Kalau mau untuk mencari nafkah maka jual.
  • Kalau mau untuk merasakan gonta-ganti mobil bekas sambil di dagangin maka jual.
  • Kalau mau dipakai HANYA untuk keluarga hingga 5 tahun ke depan maka pakai terus.

So, which one do you choose?

Standard
Buku Harian Kehidupan

Pelajaran Untuk Climb Up

Aku mengenal istilah scale up, dan aku yakin begitu pula mereka yang akrab dengan dunia start up atau digital marketing. Scale up adalah proses membesarkan bisnis, dari yang tadinya kecil namun karena konsep bisnisnya dapat diterima pasar maka skala bisnisnya dapat dibesarkan.

Di era digital atau lebih tepatnya bisnis digital proses scale up sebuah bisnis akan realtif mudah, kata kuncinya tinggal di modal. Tanyakan pada mereka yang berjualan online dengan Facebook Ads jika sudah menemukan jurus yang tepat maka melipat gandakan omset dengan menaikan budget iklan dan team CS yang handal bukanlah hal yang rumit dan lama.

Apa itu Climb Up?

Berbeda dengan Scale Up yang merupakan upaya membesarkan bisnis. Maka Climb Up adalah upaya naik ke atas dari posisi di bawah.

Seperti anda tahu semenjak pandemi saya mencari penghasilan sebagai supir. Dari yang tadinya content creator, pedagang mobil dan turun menjadi supir.

Menjadi supir ini secara prestige memang terlihat kurang. Namun sebenarnya secara penghasilan tidaklah rendah, bahhkan bisa lebih dari 2x UMR Jogja. Selain itu surprisingly ternyata saya menyenangi profesi ini karena bisa jalan-jalan dan dibayar, dibanding harus menulis artikel berjam-jam didepan laptop 😀

Walaupun menyenangkan namun saya harus berpikir untuk meningkatkan pendapatan untuk keluarga. Maka saya berpikir untuk menjadi content creator kembali, namun bukan web melainkan Youtube. Namun menjadi content creator di Youtube bukanlah hal yang mudah dan murah.

Climb Up yang saya maksud di sini adalah meninggalkan profesi nyupir lalu beralih menjadi content creator, dan ternyata itu tidak mudah.

Content creator video membutuhkan modal yang cukup, dan modal yang cukup dari tabungan saat nyupir ternyata tidak cukup. Kesalahan Climb Up saya adalah tidak memikirkan pemasukan yang berkelanjutan untuk menyambung hidup.

Saat memutuskan untuk menjadi Content Creator dan berhenti nyupir dua bulan ini sehingga otomatis pendapatan juga berhenti. Saat pendapatan berhenti dan hanya mengandalkan dari pemasukan maka secara tidak disadari di situ awal masalahnya. Kenapa?

Content Creator Bukanlah Jalan Instan Mendapat Uang

Sejak zaman blogging saya sudah memahami bahwa content creator sebagai jalan mencari penghasilan bukanlah hal yang instant. Yang instant adalah jualan online dengan spending budget untuk iklan.

Dalam hal sebagai content creator Youtube begitu juga. Maka kekeliruan bagi saya adalah untuk meninggalkan profesi yang dapat untuk menyambung hidup walaupun itu tidak bergengsi.

Tanpa pemasukan berarti kita berpikir untuk segera mendapat pemasukan pengganti sebagai content creator. Padahal hal itu adalah mustahil. Alih-alih kita memikirkan untuk membuat content yang disukai malah akhirnya mandek karena tekanan untuk segara menghasilkan. Atau membuat content tapi belum tentu berkualitas karena fokusnya langsung hasil.

Cara Climb Up Dalam Meningkatkan Penghsilan Kita

Cara untuk Climb Up yang tepat setelah saya sadari adalah mencari penghasilan dari sesuatu yang bisa kita kerjakan sebagai sampingan, tidak berhenti dari pekerjaan yang sudah menghasilkan. Karena dengan begitu pipa penghasilan kita terus mengalir dan tidak terputus.

Akhirnya saya tetap berikhtiar untuk mendapatkan penghasilan sebagai content creator tema “M” yang bisa disambi dengan pekerjaan nyupir. Sambil berdoa agar batu pijakan sebagai content creator tema “M” bisa mengantar saya sebagai conten creator tema satunya dengan target yang lebih tinggi.

Standard
Buku Harian Kehidupan

Ikhlas menerima kenyataan jika hasil tidak selalu mengikuti usaha.

“Kalau kita narik becak tanpa filosofi hidup yang jelas, misalnya niat mensyukuri anugerah badan sehat, atau mencari nikmatnya membanting tulang untuk menghidupi anak istri, kita jadi mudah lelah,” kata Markesot-nya Cak Nun.

Lalu, filosofi jenis apa yang membuat Deny dan Markesot-nya tidak mudah lelah, walau dikepung segala nelangsa di gorong-gorong? Bagaimana bisa ia berdamai dengan lancipnya beling di dasar parit atau tajamnya cibiran orang-orang di luar? “Saya ingat keluarga di rumah. Ingat istri, ingat anak saya. Saya lebih enggak tega lihat anak-istri saya enggak makan,” sebut Deny.

Satu yang membuatnya tegar adalah ia, berkebalikan dengan pepatah-pepatah tenar, ikhlas menerima kenyataan jika hasil tidak selalu mengikuti usaha.

Tak selamanya, seseorang mampu mengendalikan apa yang kelak akan terjadi kepada dirinya sendiri. “Usaha, kan urusannya sama makhluk. Hasil, urusannya sama Gusti Allah,” tutur Deny soal kredo hidupnya.

“Makanya, yang dihisab (diperhitungkan) bukan hasilnya, tapi amalan kita, usaha kita, bukan hasil yang dilihat. Hasilnya, ya efek (dari usaha) saja. Dia kan yang nentuin (hasilnya), Gusti Allah. Usaha kita ini, seperti apa yang ditunjukkan?”

Sumber: Kompas.Com

Standard
Buku Harian

Kenalan Sumber Traffic Youtube

Sekitar dua tahun yang lalu malam hari jam 21.00 saya menuju Klaten menggunakan motor tua saya. Tujuannya adalah main ke tempat teman lama yang sudah jarang bertemu. Malam itu kami  ngobrol mengenai adsense Youtube, dia dan saya sudah kenal lama dengan dunia Adsense, namun adsense website bukan Youtube.

Dia bicara sekarang jadi youtuber auto kaya karena nilai pendapatannya besar. Saya yang sudah sedikit belajar Youtube sejak 2015 menimpali,, sebenarnya pendapatannya nggak jauh beda dengan pendapatan Adsense Website. Saya menjabarkan perbandingan dari jumlah traffic website sekian, potensi yang klik iklan sekian, dan berdasar nilai cpc-nya rata-rata dapet berapa.

Lalu saya bandingkan dengan pendapat adsense Youtube saya. Video View sekian, pendapatan adsense youtube dari iklan yang ditonton berapa. Jika sama-sama dihitung dari jumlah view-nya relatif sama, walaupun pendapatan adsense web adalah dari klik namun jika ditarik dari jumlah view-nya relatif sama.

Kunci Besarnya Pendapatan Youtube

Lalu apa yang menjadi kunci besarnya penghasilan Youtube? Kuncinya adalah jumlah tayang atau video yang ditonton sangat besar, kalau jumlah tayangannya sedikit ya pendapatannya juga nggak beda dari Adsense Website. Lalu bagaimana bisa video memiliki jumlah tayangan yang sangat besar?

Kuncinya ada di Sumber Traffic Video, seperti yang dijelaskan Goolge di Sini. Jika orang bisa membaca halaman website kita karena dia ada usaha mencari/googling, maka orang menonton Youtube bisa karena dia mencari atau bisa juga karena dia direkomendasikan di halaman Youtube. Nah karena direkomendasi lalu thumbnail-nya menarik dan tema-nya sesuai dengan ketertarikan kita maka jumlah tayangannya bisa naik.

Ada orang yang membuat Youtube berisi hiburan, tidak perlu judul, tag dan deskripsi dengan target keyword ternentu asalkan isi videonya menarik plus thumbnail dan judulnya juga menarik maka bisa booom jumlah view-nya.

Namun adapula yang optimasi di SEO video youtubenya karena contentnya berjenis tutorial atau info maka bisa naik jumlahnya. Namun diantara kedua jenis video tersebut yang bisa meledakan jumlah view video-nya adalah yang entertainment video karena direkomendasikan oleh youtube. Alias di tonton karena bukan karena niat sengaja dicari tapi ditampilkan memang menghibur sesuai kalangan tertentu.

Nah berikut ini adalah sumber-sumber traffic yagn menyebabkan video kita dapat ditonton oleh pemirsa:

  • Fitur jelajah
    Traffic dari layar utama, feed subscription, tonton nanti, dan fitur penjelajahan lainnya.
  • Halaman channel
    Traffic dari channel YouTube Anda atau channel YouTube lainnya.
  • Kartu kampanye
    Traffic dari kartu kampanye pemilik konten.
  • Layar akhir
    Traffic dari layar akhir kreator.
  • Shorts
    Traffic dari pengalaman menonton vertical Shorts.
  • Notifikasi
    Traffic dari notifikasi dan email yang dikirim kepada subscriber Anda.
  • Fitur YouTube lainnya
    Traffic dari dalam YouTube yang tidak masuk ke dalam kategori lain, seperti penayangan dari promosi Partner, atau dasbor.
  • Playlist
    Traffic dari playlist mana pun yang menyertakan salah satu video Anda. Ini dapat berupa playlist Anda sendiri atau playlist pengguna lain. Traffic ini juga mencakup “Video yang disukai” pengguna dan playlist “Video favorit”.
    Anda dapat melihat playlist tertentu yang mendorong traffic ke video Anda di kartu “Asal traffic: Playlist” pada tab Jangkauan.
  • Rekomendasi video
    Traffic dari rekomendasi yang muncul di samping atau setelah pemutaran video lainnya, serta dari link pada deskripsi video. Anda dapat melihat video tertentu di kartu “Asal traffic: Rekomendasi video” pada tab Jangkauan.
  • Kartu video
    Traffic yang berasal dari kartu di video lain.
  • Iklan YouTube
    Jika video Anda digunakan sebagai iklan di YouTube, Anda akan melihat “iklan YouTube” sebagai asal traffic.
    Perhatikan bahwa penayangan dari iklan yang dapat dilewati dengan durasi lebih dari 10 detik hanya dihitung jika ditonton selama minimal 30 detik atau sampai selesai. Iklan yang tidak dapat dilewati tidak memenuhi syarat sebagai penayangan di YouTube Analytics.
  • Penelusuran YouTube
    Traffic dari hasil penelusuran YouTube. Anda dapat melihat istilah penelusuran tertentu di kartu “Asal traffic: Penelusuran YouTube” pada tab Jangkauan

Jadi kita sudah tau begitu banyak sumber traffic Youtube. Kenapa bisa sebgitu banyak? Karena sifat dasar dari video adalah kita disuguhkan atau disuapin, berbeda jika kita googling lalu kita membaca maka ada effort lebih dari hal tersebut.

Standard
Buku Harian Kehidupan

Faktor Keunggulan dalam Create Content Video

Conten Video tidaklah semudah content Text karena akan lebih besar pengorbanan-nya dalam menghasilkan jenis content tersebut. Namun jika kita sudah mengetahui jurusnya maka tinggal diaplikasikan saja maka akan bisa berhasil.

Video harus bagus dalam teknik pengambilan gambar, merancang story line agar ada alur cerita atau informasi yang disampaikan, dan tidak lupa teknik editing.

Jika kita mau mumed bisa belajar dari awal tentang videografi atau teknik editing, namun cara mudahnya adalah ya tinggal mencontoh dari yang sudah berhasil. Maksudnya berhasil di sini adalah, video dengan penonton dalam jumlah yang besar.

Tiru jenis kontennya, tiru sense editingnya dan bahkan properti yang dibutuhkan untuk syuting.

KEUNGGULAN BEBERAPA JENIS CONTENT VIDEO

Saat anda memutuskan nge-youtube maka ada beberapa jenis conten video yang dapat anda buat namun berbagai jenis conten video tersebut harus punya kekuatan masing-masing.

Kekuatan yang dimaksud di sini adalah yang dapat diunggulkan dalam sebuah video tersebut. Misal anda ingin me-review mobil tentu keunggulannya ada di mobil, mau nggak usah pakai teknik editing cukup gambleh di depan kamera saja seperti orang ngevlog makan akan ada penonton yang bertahan untuk menonton sampai habis. Karena daya tariknya ada di mobil tersebut, dan mendapatkan mobil untuk diulas itu yang menjadi kunci utamanya.

Misal, anda nggak bisa dapat benda mahal, baru atau aneh untuk di review. Tapi anda ingin membuat content tentang barang tersebut, maka anda bisa reupload dari video-video yang sudah ada. Namun dengan teknik reupload ini maka skill editing video anda harus lebih baik ketimbang yang hanya gambleh mereview real produk yang ada di depan kamera. Maka keunggulan yang dituntut di sini adalah skilll editing video.

Contoh lain anda ingin membuat tutorial, yang dapat dengan mudah divideokan dan teknik editingnya juga mudah karena tinggal menggabungkan beberapa scene. Namun keunggulan yang dibutuhkan adalah membuat storyline, menulis naskah materi apa yang akan disampaikan dengan runut namun tidak membosankan karena harus didukung dengan gambar yang sejalan dengan narasi.

Itulah keunggulan-keunggulan yang dibutuhkan dalam mebuat content video, memiliki satu keunggulan adalah baik untuk pemula dalam upaya menajdi lucky bastard. Bagi profesional memiliki dua atau tiga keunggulan dalam membuat content video adalah hal yang wajib.

Standard
Buku Harian Wordpress

Tahap menulis

Menulis dengan teknik Reader Oriented.

  1. Pahami User Intens.
    Pahami user intens dari para calon pembaca yang mencari kata kunci tersebut.
    Pahami dengan betul maksud dari pembaca mencari kata kunci tersebut di kolom pencarian gool itu untuk apa?

    Caranya dengan melakukan penelusuran sendiri di Google dengan kata kunci tersebut. Lihat hasil pencarian yang tampil di halaman pertama google itu apa saja. Karena biasanya jenis atau tipe conten seperti itulah yang dibutuhkan dan dicari oleh calon pembaca.

    Karena seperti kita tahu, jenis konten saat ini bukanlah artikel blog saja. Bisa hasil marketplace berupa produk, google my bussines, video atau snippet. Dari yang muncul dibagian teratas itulah jenis content yang biasanya paling diterima oleh pencari.
  1. Menyusun kerangka tulisan
    Setelah kita tahu apa sih yang sebetulnya ingin diketahui oleh calon pembaca, maka kita merancang kerangka tulisan tersebut.

    Cari tahu kebutuhan pembaca. Lalu temukan jawabannya. Ada satu point jawaban utama, lalu kembangkan ke point-point yang related dengan point utama tersebut.

    Tujuannya bahwa saat pembaca ingin mengetahui point utama tersebut kita dapat mengulas beberapa point terkait(related), sehingga durasi pembaca bertahan lebih lama saat membuka halaman website kita. Akan lebih baik jika ternyata point2 tambahan tersebut juga merupakan fakta terkait yang menarik sehingga dapat bermanfaat karena menambah wawasan si pembaca.
  1. Merangkai Kata
    Paragraf satu dan dua adalah memancing pembaca dengan memberi gambaran pengantar menganai ulasan dari isi tulisan akan mencakup apa. Sehingga membaca merasa sudah berada di tempat yang tepat untuk mencari solusi dan akan melanjutkan membaca hingga paragraf selanjutnya.

    Baru mulai paragraf 3 dan selanjutnya berisi inti dari tulisan. Inti dari tulisan berisi materi yang sudah kita riset sebelumnya dan kita rancang struktur tulisannya.

    Pargaraf terakhir. Ini lebih sebagai rangkuman dan penutup. Jika pembaca bisa membaca hingga paragraf terakhir ini berarti mereka benar2 akan haus terhadap topik yang kita ulas. Dan ulasaan kita benar2 mengobati dahaga mereka atau bahkan dahag tersebut belum terpuaskan. Sehingga mereka berpotensi untuk membaca related article yang kita siapkan link-nya dibagian bawha artikel sehingga jumlah page view harian akan semakin tinggi
Standard
Buku Harian Kehidupan

Karya Tulis yang Enak Dibaca dan Valid

Menulis susah karena kamu tidak menguasai bidang yang akan kamu tulis. Sedangkan di sisi lain, hasil dari karya tulismu “dituntut” untuk seperti karya tulis seoarang ahli yang menguasai bidang yang diulas tersebut.

Seorang ahli di sebuah bidang yang kemudian menulis sebetulnya dapat saja membuat karya tulis, namun hasil karya tulisnya belum tentu enak dibaca. Sedangkan orang yang biasa menulis namun tidak memiliki keahlian tentu bisa menghasilkan karya tulis namun kedalaman dan validitas tulisannya tidak dijamin berbobot.

Dan anehnya, biasanya pembaca dapat menilai kedalaman tulisan yang diulas oleh para ahli ketimbang oleh penulis yang dituntut oleh deadline redaksi. Namun produktivitas tulisan oleh penulis yang  dituntut oleh redaksi perlu diacungi jempol. Dengan jumlah karya tulis yang konsisten setiap harinya, dengan teknik penulisan yang enak dibaca(walaupun terkadang kurang berbobot).

Lalu bagaimana menggabungkan kemampuan menulis dari seorang ahli dan seorang penulis harian di media online yang dituntut sejumlah karya tulis setiap harinya oleh redaksi?

SOLUSI Menulis Mudah

Lalu solusinya adalah menulis saja dulu sebagai seorang penulis seakan-akan anda sebagai ahli yang menguasai bidang tulisa anda. Buat karya tulis ada mengalir dan enak diabca, masalah validitas tulisan “dipikir keri”. Setelah tulisan jadi dan enak dibaca, baru anda melakukan korespondensi dengan para ahli, sehingga tulisan anda yang sudah ada dan enak untuk dibaca direvisi dalam hal validitas-nya.

Sehingga hal yang pertama yaitu karya tulis mengalir dan enak dibaca sudah terpenuhi, baru setelah itu validitas ulasannya juga terjamin.

Namun dalam hal revisi tersebut bisa jadi tulisan menjadi lebih pendek, karena beberapa fakta yang sudah kita jabarkan ternyata tidak sesuai atau bahkan too goog to be true. Namun bisa juga menjadi karya tulis kita menjadi lebih panjang karena dapat dikembangkan dari beberapa fakta baru yang didapat dari hasil korespondensi.

Jadi jangan dibatasi dulu dengan terlalu banyak aturan, ibaratnya kita menulis fiksi saja dulu(tapi yang dengan dasar fakta/pengetahuan juga) baru setelah itu direvisi oleh fakta-fakta yang didapat kemudian oleh ahli.

Standard
Buku Harian Kehidupan

Sebuah Jalan Content Creator

Saat ini kita hidup di zaman milayaran layar. Saat generasi baby boomers lahir layar hanyalah layar TV, atau layar personal computer yang bahkan mayoritas tidak terhubung internet. Saat ini layar smartphone dengan resolusi tinggi plus terhubung dengan jaringan internet menjadi layar dengan jumlah dominan.

Namun layar bukanlah sekedar teknologi yang dipandang dari resolusi DPI(dot per inch) saja. Setiap layar pasti membutuhkan content untuk ditampilkan pada bidang tersebut. Kertas sebagai media cetak sudah mengibarkan bendera putih kepada layar sebagai media elektronik saat ini.

Kita hidup pada industri content yang akan mendapatkan penghasilan dari iklan atau sejenisnya. Jika dulu industri content hanya pada media penyiaran besar di bidang elektronik yaitu channel TV dan radio, namun saat ini di era internet industri content tidak di monopoli oleh Goliath media, namun juga dapat dijalani oleh siapa saja.

Tipe Content di Internet

Dulu saat awal-awal era internet content yang dapat dijangkau oleh khalayak adalah text. Ya text berupa tulisan di website-website atau yang biasa kita sebut dengan artikel. Entah itu artikel berita(ya berita adalah termasuk industri content), blog, forum dan info-info ulasan.

Bagaimana content text berupa artikel ditemukan oleh pembaca yaitu melalui google(pola penyebaran). Atau jika situs berita sudah punya nama maka pembaca akan mengarah langsung ke website tersebut. Lalu bagaimana saat ini?

Saat ini pola tersebut tidak hilang, namun bukan lagi menjadi satu-satunya jalan. Sekarang ada sosial media untuk menyebarkan link dari artikel dan yang terpenting content yang dapat dinikmati oleh khalayak bukan hanya sekedar text lagi.

Ada video dan gambar yang ekosistem penyebarannya bukan hanya melalui google lagi, melainkan social media yang merujuk pada pertemanan dan intrest dari seorang user. Anda ingin bergelut difoto-foto bagus ada Pintrest dan Instagram. Ingin bergelut di video parodi pendek-pendek ada TikTok dan Snack Video. Ingin membuat video lebih panjang dan berbobot ada Youtube.

Kenapa Video Baru Sekarang

Kenapa content video baru sekarang atau paling tidak baru 5 tahun belakangan ini naik? Jawaban sederhananya karena secara infrastruktur jaringan internet ya baru tumbuh belakangan ini. Lebih dari 10 tahun yang lalu bandwidth di Indonesia masihlah mahal dan pelan.

Selain itu perangkat untuk pengambilan gambar video atau foto semakin ke sini semakin terjangkau. Dulu untuk foto atau video yang bagus haruslah menggunakan kamera DSLR, kemudian kamera mirrorless muncul, dan saat ini cukup menggunakan HP maka video atau foto yang bagus juga dapat dihasilkan asalkan mengerti teknik pengambilan gambarnya.

Secara naluriah bagi manusia content berupa foto dan video lebih menarik dibanding teks. Yang saya maksuda naluriah adalah jika ditampilkan secara sekilas atau istilahnya menggoda, tentu manusia lebih tertarik gambar daripada tulisan.

Pola Penyebaran

Nah pola penyebaran melalui tehnik menggoda itulah yang terjadi pada social media atau bahkan youtube, saat anda tidak mengetikan keyword apapun di kolom pencarian maka anda akan digoda oleh konten-konten yang menarik. Konten yang menarik pun berbeda bagi setiap insan, maka algoritma sebuah social media akan mempelajari ketertarikan anda(intrest). Sehingga potensi anda untuk mengkonsumsi content dan menghabiskan waktu lebih banyak di platform meraka akan lebih besar.

Semakin besar content yang dikonsumsi akan semakin besar jumlah iklan yang tampil, dan dikali jumlah user yang buuuanyak maka disitulah “industri content digital” menghasilkan uang.

Lalu dengan adanya social media yang mempelajari ketertarikan seorang user, terjadi pergeseran bagaimana pola penyebaran sebuah content. Dari yang tadinya hanya mengkonsumsi informasi berdasarkan pencarian, Kini content disajikan berdasarkan algoritma ketertarikan(intrest), dan it’s work.

Kita jadi bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengkonsumsi content di sebuah platform digital, karena content tersebut sesuai dengan minat/ketertarikan kita. Jika content berdasarkan pencarian hanya menyasar kepada orang yang niat dan butuh(karena mengetikkan di kolom pencarian) sehingga jumlah konsumsi content-nya segitu-gitu saja, dan tidak bisa ditingkatkan secara signifikan(selain dengan cara menampilkan content yang related).

Lalu Produksi Content Jenis Apa?

Saya senang menjawabnya dengan jawaban klasik namun selalu terasa pas: Ya tergantung.

Begini,, bukan begitu. Jadi begini dulu saya mengenal dunia internet saat jenis konten yang populer karena hanya satu-satunya yang paling terjangkau, yaitu text atau artikel yang disajikan dalam platform blog. Saat itu yagn berjaya adalah blogger-blogger muda dengan penghasilan puluhan hingga ratusan juta perbulan.

Tahun-tahun kemarin influencer di Instagram berjaya dengan puluhan hingga ratusan ribu follower hanya bermodalkan foto-foto bagus atau seksi. Kemampuan menulisnya? Nggak jaminan, dan tidak perlu lha wong bukan blogger.

Saat ini content creator video di Yotube sedang naik daun dengan penghasilan yang bahkan bisa mengalahkan blogger-blogger muda dulu. Dan belakangan ini content creator di Tiktok pun sedang berjaya. Lalu bagaimana blogger-blogger yang dulu berjaya saat ini? Tidak banyak yang bisa berjaya di Youtube, karena jenis content-nya beda.

Yang berjaya dengan mudah di Youtube saat ini adalah anak-anak multimedia yang pintar editing video atau orang-orang non multimedia yang tidak terlalu pintar editing namun mengangkat kisah original dan menarik untuk didokumentasikan dalam video.

Apakah blogger lalu tidak ada yang berjaya saat ini? Masih banyak, namun kan yang pamornya sedang naik adalah Youtube sehingga gembar-gembor penghasilan besar adalah Youtuber. Selain itu untuk menjadi Youtuber sukses rata-rata kan harus menunjukkan sosok personalnya, beda dengan pemain adsense web yang tidak perlu menunjukkan personalitasnya selama tulisannya enak dibaca dan SEO friendly dimata Google.

Namun Blogger yang jatuh karena masa kejayaannya sudah lewat juga banyak, tidak bisa lagi membangun blog yang ramai pengunjung. Hal tersebut terjadi bisa karena algoritma Google saat ini sudah lebih kompleks atau minat&kemampuan menulisnya yang sudah hilang.

Dari kisah-kisah yang saya lihat kesuksesan sebuah content creator adalah karena kemampuan mereka membuat sebuah content sejalan dengan jenis content yang sedang banyak diminati pasar. Editor yang hebat, muncul saat jenis content video diminati. Blogger hebat, muncul dulu saat content article hanyalah satu-satunya yang dapat dijangkau banyak orang. Jarang namun ada yang tadinya dari Blogger bisa melanjutkan kejayaan-nya di era Yotube.

Jadi kuncinya adalah Luck atau usaha bagaimana menghasilkan content yang menarik banyak audience sesuai dengan kemampuan skill dan modal kita. Bagi beberapa orang yang memiliki skill tertentu yang pas dan modal yang cukup karena terlahir dari keluarga yang berada adalah keberuntungan. Namun bagi yang tidak seberuntung itu, saya pikir kuncinya adalah mendekat kepada yang sudah sukses untuk belajar agar tertular suksesnya dalam bidang industri content digital.

Standard
Buku Harian Wordpress

Tahap reDesign Website yang penting langsung keren?

Saat ini saya ingin melakukan redesign sebuah website saya. Bagi orang-orang awam mereka mengira untuk create sebuah web yang penting cukup punya dana, kemudian kasih foto, kasih info produk secukupnya jadi deh. Bagi saya tidaklah sesederhana itu.

Tapi bagi web desainer pemilihan huruf(typography), color scheme, layout dan content foto yang detail ada yang ada dipikiran mereka. Namun sesungguhnya tidak perlu sedetail itu juga dalam berpikir mengenai web desaing bagi orang awam.

Di Mulai Dari GOAL

Bagi saya untuk memulainya adalah dengan memikirkan goalnya. Tujuan dari sebuah halaman website itu nantinya untuk apa sih, itu yang harus dipikirkan sebagai dasarnya.

Lalu dipikirkan siapa sih pangsa pasar, calon visitor website tersebut. Anda tidak akan membuat website dengan color scheme warna-warni jika website anda adalah untuk perusahaan yang berdagang alat-alat industri bukan?

Setelah itu baru layout, alias struktur content yang akan kita sajikan. Jika itu sudah baru mulai berpikir ke hal yang detail dan jelimet seperti typography, color scheme, mobile responsive, foto dan lain-lain.

Studi Kasus Redesign Website

Sebelumnya saya telah menyebutkan bahwa saya ingin melakukan redesign website usaha transportasi saya yang dimulai accidentally karana pandemi Koped19. Kalau begitu cukup desain ulang saja tampilannya dengan yang lebih bagus bukan?

Jawabannya bukan! Pondasinya diawali dengan GOAL apa yang ingin dicapai.

Latar Belakang: Jadi website yang saat ini adalah website sederhana. Sangat sederhana sekali, karena hanya menggunakan theme wordpress bawaan. Alasan saya dulu adalah karena untuk menguji pasar apakah ada respon dengan jasa yang saya tawarkan. Ternyata ada dan cukup baik. That’s it.

Nah dalam perjalanannya ternyata respon pasarnya baik. Walaupun rasio antara transaksi vs klik iklan menurut saya belum terlalu bagus, tapi usaha ini sudah bisa untung.

Karena itu Goal saya yang pertama saya dalam redesign ini adalah memperbaiki tampilan halaman landing page agar rasio orang yang datang ke web dan melakukan chat WA lebih besar, sehingga jumlah transaksi juga meningkat. Caranya adalah dengan tampilan yang lebih profesional namun tetap menyentuh sisi personal pengungjung web.

Goal yang kedua adalah, ada penambahan bisnis model. Dari yang tadinya usaha jalan sendiri ternyata juga bisa di subkan ke pihak lain. Sehingga ada yang perlu ditambahkan dari halaman landing page website tersebut.

Batasan Masalah

Dalam hal desain web saat ini yang saya pegang adalah mobile first. Tidak usah jelimet dalam hal desain web seperti awal-awal di tahun 2010. Minimalis dan yang penting adalah tampilan pada device mobile. Titik.

Desain bukan hanya tampilan tapi termasuk content di dalamnya, copywrite dan foto yang baik sangat mendukung desain yang bagus. Lalu kembali lagi, minimalis namun nyaman saat dilihat di mobile browser.

Semua itu didasarkan data bahwa pengguna internet di Indonesia didominasi oleh mereka yang menggunakan perangkat mobile. Terlebih lagi ternyata pengunjung website saya selama ini justru didominasi oleh pengguna Iphone dengan safari browser-nya, itu yang bikin sedikit terkejut.

Kesimpulan Redesign Website

Dalam penjabaran singkat di atas saya menjabarkan dalam hal redesign pondasi awalnya justru bukan di dalam hal teknis desain-nya. Namun analisa kebutuhannya.

Saya sudah lama meninggalkan mindset desain website bagus yang mendetail dengan typography, color schem bagus, ukuran jarak pixel yang sempurn dan grafis bagus adalah segalanya, itu mindset saat menjadi web designer.

Bagi para pelaku UMKM mindsetnya adalah website minimalis, rapih saat tampil di mobile device dan yang terpenting content-nya dapat meyakinkan potenttial buyer untuk membeli produk/jasa kita.
Credit image: @sigmund Unsplash.

Standard
Buku Harian Kehidupan

Kisah Sebuah Value Dari Seorang Ayah Tentara



Habis nonton sharing seorang anak yang ayahnya hanyalah seorang tentara berpangkat rendah. Namun karena buku-buku bacaan dari sang ayah tersebut adalah buku-buku luar negeri yang berbobot maka pemikirannya melebihi dari pemikiran seorang tentara yang hanya berpangkat rendah.

Sebenarnya kisah inspiratif bagaimana seorang tentara mendidik anaknya ini bukanlah pertama kali yang saya dengar. Tapi kali ini saya amaze saja karena dijabarkan dengan lebih detail dan hasilnya juga nyata.

Bagaimana seorang tentara dengan pangkat terakhirnya adalah Peltu mendidik anaknya harus pintar bahasa Inggris. Padahal keluarganya bukanlah tinggal di kota besar dan linggkungan yang terbiasa menggunakan bahasa Inggris. Tapi di zaman tersebut Sang Tentara sudah menekankan anaknya untuk bisa berbahsa Inggris. Lalu anak-anaknya tersebut di kurususkan ke orang India yang pandai berbahasa Inggris.

Lalu bagaimana pula Sang Tentara itu memberikan kaset motivasi berbahasa Inggris saat anaknya menempuh pendidikan tinggi. Hal yang jarang terjadi, apalagi ayahnya bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi.

Ajaran lainnya adalah kedisiplinan. Ya tentu sebagai tentara hal itu menjadi ajaran yang lumrah. Tapi kelak anak tersebut menikmati value-value yang diajarkan oleh sang ayah tersebut.
Standard