Buku Harian Kehidupan

Usia Mobil Sudah 10 tahun. Lalu?

Tahun ini gerobak besi berwarna Cokelat genap berusia 10 tahun. Sebenarnya si Cokelat termasuk jarang di pakai sehingga jika dirata-rata per tahun-nya tidak sampai menempuh jarak 10.000 kilometer. Sehingga jarak tempuhnya termasuk low.

Namun berhubung setahun terakhir si Cokelat dipakai untuk mencari nafkah maka dalam jangka waktu kurang dari satu tahun jarak tempuhnya sudah bertambah sekitar 20.000 kilometer. Saat ini di umur yang ke 10 Odometernya mencapai angka 105.000 kilometer.

Walaupun tergolong tidak tinggi namun yang namanya benda bergerak sehingga beberapa komponen juga memerlukan penggantian. Walaupun belum mendesak alias tidak urgen namun setidaknya saat ini ada beberapa bagian yang perlu diremajakan.

Itu belum termasuk beberapa komponen part yang sudah pernah diganti terlebih dulu, seperti satu set ban sudah ganti dua kali, kampas rem, karet support shock dan shockbreaker depan. Tidak termasuk komponen fast moving seperti filter udara, busi dan filter oli.

Berikut rincian beberapa part yang sudah perlu diremajakan di usia yang menginjak angka 10 tahun:

  • Kopling set + jasa: Rp 2.000.000
  • Kaca film full Sunguard: Rp 800.000 / kaca samping kiri saja Rp 150.000
  • Aki Amaron: Rp 1.100.000
  • Thermostat: Rp 250.000
  • Pajak tahunan: Rp 1.400.000

Total: Rp 5.550.000

Lalu bagaimana Jual atau Pakai terus?

Setelah 10 tahun gimana, akan dijual atau dipakai terus? Tergantung proyeksinya ke depan.

  • Kalau mau untuk mencari nafkah maka jual.
  • Kalau mau untuk merasakan gonta-ganti mobil bekas sambil di dagangin maka jual.
  • Kalau mau dipakai HANYA untuk keluarga hingga 5 tahun ke depan maka pakai terus.

So, which one do you choose?

Standard
Buku Harian Kehidupan

Pelajaran Untuk Climb Up

Aku mengenal istilah scale up, dan aku yakin begitu pula mereka yang akrab dengan dunia start up atau digital marketing. Scale up adalah proses membesarkan bisnis, dari yang tadinya kecil namun karena konsep bisnisnya dapat diterima pasar maka skala bisnisnya dapat dibesarkan.

Di era digital atau lebih tepatnya bisnis digital proses scale up sebuah bisnis akan realtif mudah, kata kuncinya tinggal di modal. Tanyakan pada mereka yang berjualan online dengan Facebook Ads jika sudah menemukan jurus yang tepat maka melipat gandakan omset dengan menaikan budget iklan dan team CS yang handal bukanlah hal yang rumit dan lama.

Apa itu Climb Up?

Berbeda dengan Scale Up yang merupakan upaya membesarkan bisnis. Maka Climb Up adalah upaya naik ke atas dari posisi di bawah.

Seperti anda tahu semenjak pandemi saya mencari penghasilan sebagai supir. Dari yang tadinya content creator, pedagang mobil dan turun menjadi supir.

Menjadi supir ini secara prestige memang terlihat kurang. Namun sebenarnya secara penghasilan tidaklah rendah, bahhkan bisa lebih dari 2x UMR Jogja. Selain itu surprisingly ternyata saya menyenangi profesi ini karena bisa jalan-jalan dan dibayar, dibanding harus menulis artikel berjam-jam didepan laptop 😀

Walaupun menyenangkan namun saya harus berpikir untuk meningkatkan pendapatan untuk keluarga. Maka saya berpikir untuk menjadi content creator kembali, namun bukan web melainkan Youtube. Namun menjadi content creator di Youtube bukanlah hal yang mudah dan murah.

Climb Up yang saya maksud di sini adalah meninggalkan profesi nyupir lalu beralih menjadi content creator, dan ternyata itu tidak mudah.

Content creator video membutuhkan modal yang cukup, dan modal yang cukup dari tabungan saat nyupir ternyata tidak cukup. Kesalahan Climb Up saya adalah tidak memikirkan pemasukan yang berkelanjutan untuk menyambung hidup.

Saat memutuskan untuk menjadi Content Creator dan berhenti nyupir dua bulan ini sehingga otomatis pendapatan juga berhenti. Saat pendapatan berhenti dan hanya mengandalkan dari pemasukan maka secara tidak disadari di situ awal masalahnya. Kenapa?

Content Creator Bukanlah Jalan Instan Mendapat Uang

Sejak zaman blogging saya sudah memahami bahwa content creator sebagai jalan mencari penghasilan bukanlah hal yang instant. Yang instant adalah jualan online dengan spending budget untuk iklan.

Dalam hal sebagai content creator Youtube begitu juga. Maka kekeliruan bagi saya adalah untuk meninggalkan profesi yang dapat untuk menyambung hidup walaupun itu tidak bergengsi.

Tanpa pemasukan berarti kita berpikir untuk segera mendapat pemasukan pengganti sebagai content creator. Padahal hal itu adalah mustahil. Alih-alih kita memikirkan untuk membuat content yang disukai malah akhirnya mandek karena tekanan untuk segara menghasilkan. Atau membuat content tapi belum tentu berkualitas karena fokusnya langsung hasil.

Cara Climb Up Dalam Meningkatkan Penghsilan Kita

Cara untuk Climb Up yang tepat setelah saya sadari adalah mencari penghasilan dari sesuatu yang bisa kita kerjakan sebagai sampingan, tidak berhenti dari pekerjaan yang sudah menghasilkan. Karena dengan begitu pipa penghasilan kita terus mengalir dan tidak terputus.

Akhirnya saya tetap berikhtiar untuk mendapatkan penghasilan sebagai content creator tema “M” yang bisa disambi dengan pekerjaan nyupir. Sambil berdoa agar batu pijakan sebagai content creator tema “M” bisa mengantar saya sebagai conten creator tema satunya dengan target yang lebih tinggi.

Standard
Buku Harian Kehidupan

Ikhlas menerima kenyataan jika hasil tidak selalu mengikuti usaha.

“Kalau kita narik becak tanpa filosofi hidup yang jelas, misalnya niat mensyukuri anugerah badan sehat, atau mencari nikmatnya membanting tulang untuk menghidupi anak istri, kita jadi mudah lelah,” kata Markesot-nya Cak Nun.

Lalu, filosofi jenis apa yang membuat Deny dan Markesot-nya tidak mudah lelah, walau dikepung segala nelangsa di gorong-gorong? Bagaimana bisa ia berdamai dengan lancipnya beling di dasar parit atau tajamnya cibiran orang-orang di luar? “Saya ingat keluarga di rumah. Ingat istri, ingat anak saya. Saya lebih enggak tega lihat anak-istri saya enggak makan,” sebut Deny.

Satu yang membuatnya tegar adalah ia, berkebalikan dengan pepatah-pepatah tenar, ikhlas menerima kenyataan jika hasil tidak selalu mengikuti usaha.

Tak selamanya, seseorang mampu mengendalikan apa yang kelak akan terjadi kepada dirinya sendiri. “Usaha, kan urusannya sama makhluk. Hasil, urusannya sama Gusti Allah,” tutur Deny soal kredo hidupnya.

“Makanya, yang dihisab (diperhitungkan) bukan hasilnya, tapi amalan kita, usaha kita, bukan hasil yang dilihat. Hasilnya, ya efek (dari usaha) saja. Dia kan yang nentuin (hasilnya), Gusti Allah. Usaha kita ini, seperti apa yang ditunjukkan?”

Sumber: Kompas.Com

Standard
Buku Harian Kehidupan

Faktor Keunggulan dalam Create Content Video

Conten Video tidaklah semudah content Text karena akan lebih besar pengorbanan-nya dalam menghasilkan jenis content tersebut. Namun jika kita sudah mengetahui jurusnya maka tinggal diaplikasikan saja maka akan bisa berhasil.

Video harus bagus dalam teknik pengambilan gambar, merancang story line agar ada alur cerita atau informasi yang disampaikan, dan tidak lupa teknik editing.

Jika kita mau mumed bisa belajar dari awal tentang videografi atau teknik editing, namun cara mudahnya adalah ya tinggal mencontoh dari yang sudah berhasil. Maksudnya berhasil di sini adalah, video dengan penonton dalam jumlah yang besar.

Tiru jenis kontennya, tiru sense editingnya dan bahkan properti yang dibutuhkan untuk syuting.

KEUNGGULAN BEBERAPA JENIS CONTENT VIDEO

Saat anda memutuskan nge-youtube maka ada beberapa jenis conten video yang dapat anda buat namun berbagai jenis conten video tersebut harus punya kekuatan masing-masing.

Kekuatan yang dimaksud di sini adalah yang dapat diunggulkan dalam sebuah video tersebut. Misal anda ingin me-review mobil tentu keunggulannya ada di mobil, mau nggak usah pakai teknik editing cukup gambleh di depan kamera saja seperti orang ngevlog makan akan ada penonton yang bertahan untuk menonton sampai habis. Karena daya tariknya ada di mobil tersebut, dan mendapatkan mobil untuk diulas itu yang menjadi kunci utamanya.

Misal, anda nggak bisa dapat benda mahal, baru atau aneh untuk di review. Tapi anda ingin membuat content tentang barang tersebut, maka anda bisa reupload dari video-video yang sudah ada. Namun dengan teknik reupload ini maka skill editing video anda harus lebih baik ketimbang yang hanya gambleh mereview real produk yang ada di depan kamera. Maka keunggulan yang dituntut di sini adalah skilll editing video.

Contoh lain anda ingin membuat tutorial, yang dapat dengan mudah divideokan dan teknik editingnya juga mudah karena tinggal menggabungkan beberapa scene. Namun keunggulan yang dibutuhkan adalah membuat storyline, menulis naskah materi apa yang akan disampaikan dengan runut namun tidak membosankan karena harus didukung dengan gambar yang sejalan dengan narasi.

Itulah keunggulan-keunggulan yang dibutuhkan dalam mebuat content video, memiliki satu keunggulan adalah baik untuk pemula dalam upaya menajdi lucky bastard. Bagi profesional memiliki dua atau tiga keunggulan dalam membuat content video adalah hal yang wajib.

Standard
Buku Harian Kehidupan

Karya Tulis yang Enak Dibaca dan Valid

Menulis susah karena kamu tidak menguasai bidang yang akan kamu tulis. Sedangkan di sisi lain, hasil dari karya tulismu “dituntut” untuk seperti karya tulis seoarang ahli yang menguasai bidang yang diulas tersebut.

Seorang ahli di sebuah bidang yang kemudian menulis sebetulnya dapat saja membuat karya tulis, namun hasil karya tulisnya belum tentu enak dibaca. Sedangkan orang yang biasa menulis namun tidak memiliki keahlian tentu bisa menghasilkan karya tulis namun kedalaman dan validitas tulisannya tidak dijamin berbobot.

Dan anehnya, biasanya pembaca dapat menilai kedalaman tulisan yang diulas oleh para ahli ketimbang oleh penulis yang dituntut oleh deadline redaksi. Namun produktivitas tulisan oleh penulis yang  dituntut oleh redaksi perlu diacungi jempol. Dengan jumlah karya tulis yang konsisten setiap harinya, dengan teknik penulisan yang enak dibaca(walaupun terkadang kurang berbobot).

Lalu bagaimana menggabungkan kemampuan menulis dari seorang ahli dan seorang penulis harian di media online yang dituntut sejumlah karya tulis setiap harinya oleh redaksi?

SOLUSI Menulis Mudah

Lalu solusinya adalah menulis saja dulu sebagai seorang penulis seakan-akan anda sebagai ahli yang menguasai bidang tulisa anda. Buat karya tulis ada mengalir dan enak diabca, masalah validitas tulisan “dipikir keri”. Setelah tulisan jadi dan enak dibaca, baru anda melakukan korespondensi dengan para ahli, sehingga tulisan anda yang sudah ada dan enak untuk dibaca direvisi dalam hal validitas-nya.

Sehingga hal yang pertama yaitu karya tulis mengalir dan enak dibaca sudah terpenuhi, baru setelah itu validitas ulasannya juga terjamin.

Namun dalam hal revisi tersebut bisa jadi tulisan menjadi lebih pendek, karena beberapa fakta yang sudah kita jabarkan ternyata tidak sesuai atau bahkan too goog to be true. Namun bisa juga menjadi karya tulis kita menjadi lebih panjang karena dapat dikembangkan dari beberapa fakta baru yang didapat dari hasil korespondensi.

Jadi jangan dibatasi dulu dengan terlalu banyak aturan, ibaratnya kita menulis fiksi saja dulu(tapi yang dengan dasar fakta/pengetahuan juga) baru setelah itu direvisi oleh fakta-fakta yang didapat kemudian oleh ahli.

Standard
Buku Harian Kehidupan

Sebuah Jalan Content Creator

Saat ini kita hidup di zaman milayaran layar. Saat generasi baby boomers lahir layar hanyalah layar TV, atau layar personal computer yang bahkan mayoritas tidak terhubung internet. Saat ini layar smartphone dengan resolusi tinggi plus terhubung dengan jaringan internet menjadi layar dengan jumlah dominan.

Namun layar bukanlah sekedar teknologi yang dipandang dari resolusi DPI(dot per inch) saja. Setiap layar pasti membutuhkan content untuk ditampilkan pada bidang tersebut. Kertas sebagai media cetak sudah mengibarkan bendera putih kepada layar sebagai media elektronik saat ini.

Kita hidup pada industri content yang akan mendapatkan penghasilan dari iklan atau sejenisnya. Jika dulu industri content hanya pada media penyiaran besar di bidang elektronik yaitu channel TV dan radio, namun saat ini di era internet industri content tidak di monopoli oleh Goliath media, namun juga dapat dijalani oleh siapa saja.

Tipe Content di Internet

Dulu saat awal-awal era internet content yang dapat dijangkau oleh khalayak adalah text. Ya text berupa tulisan di website-website atau yang biasa kita sebut dengan artikel. Entah itu artikel berita(ya berita adalah termasuk industri content), blog, forum dan info-info ulasan.

Bagaimana content text berupa artikel ditemukan oleh pembaca yaitu melalui google(pola penyebaran). Atau jika situs berita sudah punya nama maka pembaca akan mengarah langsung ke website tersebut. Lalu bagaimana saat ini?

Saat ini pola tersebut tidak hilang, namun bukan lagi menjadi satu-satunya jalan. Sekarang ada sosial media untuk menyebarkan link dari artikel dan yang terpenting content yang dapat dinikmati oleh khalayak bukan hanya sekedar text lagi.

Ada video dan gambar yang ekosistem penyebarannya bukan hanya melalui google lagi, melainkan social media yang merujuk pada pertemanan dan intrest dari seorang user. Anda ingin bergelut difoto-foto bagus ada Pintrest dan Instagram. Ingin bergelut di video parodi pendek-pendek ada TikTok dan Snack Video. Ingin membuat video lebih panjang dan berbobot ada Youtube.

Kenapa Video Baru Sekarang

Kenapa content video baru sekarang atau paling tidak baru 5 tahun belakangan ini naik? Jawaban sederhananya karena secara infrastruktur jaringan internet ya baru tumbuh belakangan ini. Lebih dari 10 tahun yang lalu bandwidth di Indonesia masihlah mahal dan pelan.

Selain itu perangkat untuk pengambilan gambar video atau foto semakin ke sini semakin terjangkau. Dulu untuk foto atau video yang bagus haruslah menggunakan kamera DSLR, kemudian kamera mirrorless muncul, dan saat ini cukup menggunakan HP maka video atau foto yang bagus juga dapat dihasilkan asalkan mengerti teknik pengambilan gambarnya.

Secara naluriah bagi manusia content berupa foto dan video lebih menarik dibanding teks. Yang saya maksuda naluriah adalah jika ditampilkan secara sekilas atau istilahnya menggoda, tentu manusia lebih tertarik gambar daripada tulisan.

Pola Penyebaran

Nah pola penyebaran melalui tehnik menggoda itulah yang terjadi pada social media atau bahkan youtube, saat anda tidak mengetikan keyword apapun di kolom pencarian maka anda akan digoda oleh konten-konten yang menarik. Konten yang menarik pun berbeda bagi setiap insan, maka algoritma sebuah social media akan mempelajari ketertarikan anda(intrest). Sehingga potensi anda untuk mengkonsumsi content dan menghabiskan waktu lebih banyak di platform meraka akan lebih besar.

Semakin besar content yang dikonsumsi akan semakin besar jumlah iklan yang tampil, dan dikali jumlah user yang buuuanyak maka disitulah “industri content digital” menghasilkan uang.

Lalu dengan adanya social media yang mempelajari ketertarikan seorang user, terjadi pergeseran bagaimana pola penyebaran sebuah content. Dari yang tadinya hanya mengkonsumsi informasi berdasarkan pencarian, Kini content disajikan berdasarkan algoritma ketertarikan(intrest), dan it’s work.

Kita jadi bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengkonsumsi content di sebuah platform digital, karena content tersebut sesuai dengan minat/ketertarikan kita. Jika content berdasarkan pencarian hanya menyasar kepada orang yang niat dan butuh(karena mengetikkan di kolom pencarian) sehingga jumlah konsumsi content-nya segitu-gitu saja, dan tidak bisa ditingkatkan secara signifikan(selain dengan cara menampilkan content yang related).

Lalu Produksi Content Jenis Apa?

Saya senang menjawabnya dengan jawaban klasik namun selalu terasa pas: Ya tergantung.

Begini,, bukan begitu. Jadi begini dulu saya mengenal dunia internet saat jenis konten yang populer karena hanya satu-satunya yang paling terjangkau, yaitu text atau artikel yang disajikan dalam platform blog. Saat itu yagn berjaya adalah blogger-blogger muda dengan penghasilan puluhan hingga ratusan juta perbulan.

Tahun-tahun kemarin influencer di Instagram berjaya dengan puluhan hingga ratusan ribu follower hanya bermodalkan foto-foto bagus atau seksi. Kemampuan menulisnya? Nggak jaminan, dan tidak perlu lha wong bukan blogger.

Saat ini content creator video di Yotube sedang naik daun dengan penghasilan yang bahkan bisa mengalahkan blogger-blogger muda dulu. Dan belakangan ini content creator di Tiktok pun sedang berjaya. Lalu bagaimana blogger-blogger yang dulu berjaya saat ini? Tidak banyak yang bisa berjaya di Youtube, karena jenis content-nya beda.

Yang berjaya dengan mudah di Youtube saat ini adalah anak-anak multimedia yang pintar editing video atau orang-orang non multimedia yang tidak terlalu pintar editing namun mengangkat kisah original dan menarik untuk didokumentasikan dalam video.

Apakah blogger lalu tidak ada yang berjaya saat ini? Masih banyak, namun kan yang pamornya sedang naik adalah Youtube sehingga gembar-gembor penghasilan besar adalah Youtuber. Selain itu untuk menjadi Youtuber sukses rata-rata kan harus menunjukkan sosok personalnya, beda dengan pemain adsense web yang tidak perlu menunjukkan personalitasnya selama tulisannya enak dibaca dan SEO friendly dimata Google.

Namun Blogger yang jatuh karena masa kejayaannya sudah lewat juga banyak, tidak bisa lagi membangun blog yang ramai pengunjung. Hal tersebut terjadi bisa karena algoritma Google saat ini sudah lebih kompleks atau minat&kemampuan menulisnya yang sudah hilang.

Dari kisah-kisah yang saya lihat kesuksesan sebuah content creator adalah karena kemampuan mereka membuat sebuah content sejalan dengan jenis content yang sedang banyak diminati pasar. Editor yang hebat, muncul saat jenis content video diminati. Blogger hebat, muncul dulu saat content article hanyalah satu-satunya yang dapat dijangkau banyak orang. Jarang namun ada yang tadinya dari Blogger bisa melanjutkan kejayaan-nya di era Yotube.

Jadi kuncinya adalah Luck atau usaha bagaimana menghasilkan content yang menarik banyak audience sesuai dengan kemampuan skill dan modal kita. Bagi beberapa orang yang memiliki skill tertentu yang pas dan modal yang cukup karena terlahir dari keluarga yang berada adalah keberuntungan. Namun bagi yang tidak seberuntung itu, saya pikir kuncinya adalah mendekat kepada yang sudah sukses untuk belajar agar tertular suksesnya dalam bidang industri content digital.

Standard
Buku Harian Kehidupan

Kisah Sebuah Value Dari Seorang Ayah Tentara



Habis nonton sharing seorang anak yang ayahnya hanyalah seorang tentara berpangkat rendah. Namun karena buku-buku bacaan dari sang ayah tersebut adalah buku-buku luar negeri yang berbobot maka pemikirannya melebihi dari pemikiran seorang tentara yang hanya berpangkat rendah.

Sebenarnya kisah inspiratif bagaimana seorang tentara mendidik anaknya ini bukanlah pertama kali yang saya dengar. Tapi kali ini saya amaze saja karena dijabarkan dengan lebih detail dan hasilnya juga nyata.

Bagaimana seorang tentara dengan pangkat terakhirnya adalah Peltu mendidik anaknya harus pintar bahasa Inggris. Padahal keluarganya bukanlah tinggal di kota besar dan linggkungan yang terbiasa menggunakan bahasa Inggris. Tapi di zaman tersebut Sang Tentara sudah menekankan anaknya untuk bisa berbahsa Inggris. Lalu anak-anaknya tersebut di kurususkan ke orang India yang pandai berbahasa Inggris.

Lalu bagaimana pula Sang Tentara itu memberikan kaset motivasi berbahasa Inggris saat anaknya menempuh pendidikan tinggi. Hal yang jarang terjadi, apalagi ayahnya bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi.

Ajaran lainnya adalah kedisiplinan. Ya tentu sebagai tentara hal itu menjadi ajaran yang lumrah. Tapi kelak anak tersebut menikmati value-value yang diajarkan oleh sang ayah tersebut.
Standard
Buku Harian Kehidupan

Kata-kata Mengantarkan ke Sebuah Tujuan

Setiap perkataan atau kata-kata dalam tulisan akan mengantarkan kita ke arah sebuah tujuan tertentu.

Jangan berkata jika tidak tau arah tujuannya, lebih baik diam saja.

Pikirkan arah tujuannya dalam setiap sebuah tulisan atau perbincangan, baru pikirkan kata-katanya.

Kata-kata adalah senjata yang elegan dan berdampak besar. Itu seperti jurus bela diri, yang dapat mempengaruhi lawan.

Orang-orang besar berjuangan dalam kata dan perbuatan. Kata + Ilmu + Perbuatan/amalan adalah perpaduan sebagai senjata yang sangat ampuh.

Standard
Buku Harian Kehidupan

Resensi Buku: Agar Sehafal Al-fatihah

Sedikit ulasan resensi buku “Agar Sehafal Al-fatihah” – Trik dan Tips Jitu Menghafal Al-Qur’an Sekuat Hafalan Al-Fatihah. Karya Arham Bin Ahmad Yasin LC, MH.

Saya tidak membaca dari bab awal karena menurut saya terlalu banyak pembukaan. Saya mulai membaca dari halaman 39, di Bab ini penulis menekankan berdasar surat Ali Imran ayat 200 bahwa untuk menghafal Al-Quran kita perlu untuk sabar dan berusungguh-sungguh. Konsisten dalam menghafal, jangan hanya menambah hafalan baru tapi hafalan lama jadi lupa.

Kemudian di bab-bab selanjutnya hal penting lainnya adalah kita harus meluangkan waktu sendiri untuk tahfiz. Bisa sehabis magrib atau setelah subuh. Di waktu tersebut secara konsisten dilakukan untuk tahfiz.

Hal lainnya yang penting adalah tetapkan target. Target haruslah masuk akal tapi juga menantang.

Strategi Menghafal

Strategi Menghafal Al-Quran: Persurat atau Perhalaman

Cara ini berlawanan dengan kebanyakan orang yang menggunakan konsep one day one ayat. Tapi dari pengalaman penulis yang sudha 10 tahun memmbing penghafal Al-Quran, untuk orang-orang yang memiliki banyak aktivitas target satu surat atau satu halaman dalam sepekan umumnya lebih realistis dan efektif hasilnya.

Teknisnya adalah kita menetapkan waktu khusus untuk menghafal satu surat(pendek) atau halaman tersebut sekaligus dalam satu hari, kemudian kita muraja’ah(mengulang hafalan) saja setiap hari selama satu pekan. Ini lebih baik daripada cara mencicil satu surat tersebut secara merata dalam sepekan.

Namun cara ini juga memiliki kelemahan diantaranya:

  • Biasanya orang sulit konsisten
  • Orang mudah jenuh
  • Jika hafalan sudah banyak penghafal bisa mengalami kesulitan menyambung ayat.

Strategi Menghafal Al-Quran: Menghafal Ayat per ayat atau Surat.

Sebelumnya perlu dilakukan langkah yang sama yaitu surah dibaca berulang-ulang minimal 5 kali dengan suara yang lantang namun dengan tartil, yaitu secara perlhana dan jelas.

Dengan teknik ini kita mneghafal ayat demi ayat, pindah ke ayat selanjutnya jika yang sebelumnya sudah benar-benar sudah hafal.

Untuk ayat yang panjang, tentukan bagian potongan-potongan ayat yang akan dihafalkan, jika sudah hafal potong demi potong maka bacalah satu ayat utuh tersebut hinggal lancar. Kemudian lanjutkan dengan ayat selnjutnya.

Mengulang Hafalan

Cara untuk mengikat hafalan agar tidak hilang adalah dengan cara mengulang-ulang. Idealnya menurut penulis ketika baru menghafal sesuai target, ia harus segera mengulang hafalan tersebut minimal 5 kali atau lebih disaat itu juga.

Lalu selanjutnya diualng lagi dalam beberapa waktu berdekatan, misal ketika hafalan kita sudah lengkap di waktu sesudah subuh maka saat itu jga diulang minimal 5 kali. Kemudian jam 9 pagi diulang lagi, lalu setelah zuhur, sebelum magrib dan setelah isya.

Standard
Buku Harian Kehidupan

Tulisan Pertama di 2020

Akhirnya blog ini “terupdate” lagi setelah cukup lama terbengkalai. Bersama tulisan ini akhirnya saya declare bahwa mulai saat ini, tepatnya Desember 2019 kemarin saya mulai nge-Youtube. 😀

Ikut arus nih ceritanya? Bisa dikatakan iya atau tidak.

Sebelumnya saya sudah mulai nge-Youtub tahun 2015 yang lalu, saat itu saya berlangganan salah satu ecourse berbayar di Udemy tentang Youtube. Jadi masalah copyright dan lain-lain di dunia ini sudah tidak asing lagi.

Bahkan saat itu youtube studio masih ada fitur editor-nya, alias kita masih bisa edit video on-the-fly di Youtube. Saat itu situs berbagi video ini belum booming, walaupun tanda-tanda yang menunjukan bahwa arah ke sana telah muncul.

Lalu Kenapa Youtube?

Setelah menggeluti dunia blogger sejak kurang lebih dari tahun 2007 akhirnya tidak bisa dipungkiri dunia saat ini mengerah ke konten video. Website 2.0 dan content text menjadi so yesterday.

Bukan berarti akan menghilang, tapi selera pasarnya akan mengarah ke video untuk beberapa jenis informasi yang dibutuhkan. Tidak semua. Ini jika kita melihat dari sisi SEO, saat orang mencari informasi melalui laman pencarian google.

Saya punya artikel lawas tentang tutorial nyetir mobil yang dulunya merajai posisi satu di google, namun pada akhirnya tergeser. Tergeser bukan oleh website berkonten text dari pesaing, melainkan tergeser oleh hasil pencarian di Youtube.

Untuk hal tutorial ini content video jelas punya keunggulan dibanding content artikel atau text. Itu jika kita melihat dari sisi SEO, alias bagaiamana informasi bisa sampai ke user.

Selain itu Youtube juga bersifat entertainment alias hiburan, yang dimana orang tidak mencari informasi tapi “informasi” entertainment itu mendatangi orang tersebut dengan cara suggestion video atau notifikasi yang muncul karena telah subscribe.

Dan di Youtube content jenis entertainment ini adalah yang dapat meraih pendapatan tinggi, bukan jenis content tutorial yang bermanfaat. Jadi kalau anda membuat video tutorial dengan tujuan membantu banyak orang dari pengetahuan anda that is good, tapi kalau mau berkelimpahan dari Youtube buatlah content yang berjenis entertainment. Yang tidak(atau sedikit) bermanfaat tapi betah untuk ditonton berbagai kalangan yang cukup luas walaupun membuang-buang waktu penonton.

Kalimat yang saya tebalkan di atas mungkin equal dengan istilah: buatlah konten yang menghibur. 😀

Standard