economy

Menjual Sesuatu Di Facebook by tantan

“Selling stuff is EAYS! All you gotta do is give away stuff that makes people happy… And then sell stuff that makes them even happier.” – Frank Kern.

“Menjual barang itu MUDAH! Yang harus Anda lakukan adalah memberikan barang yang membuat orang bahagia … Dan kemudian menjual barang yang membuat mereka lebih bahagia lagi.”

Oleh karena itu give dulu baru take…

Sharing dulu baru selling…

Serta fokus pada audience, bukan pada diri kita sendiri…

Fokus ke audience bagaimana mereka bisa mendapatkan manfaat dari yang kita tawarkan. Bukan fokus pada diri kita untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Silahkan cek postingan ini https://t.me/tantanhilyatana/680 tentang “Hasil Perbandingan Facebook Ad Campaign Hard-Selling vs yang Non Hard-Selling” Bagaimana give dulu baru kemudian take memberikan ROAS (keuntungan) lebih besar berkali-kali lipat.

Prinsip ini adalah salah satu yang melatar belakangi lahirnya FBMagneticAds.com

Contoh pada social media, social media adalah tempat orang-orang nongkrong untuk bersosialisasi, mendapatkan informasi, atau unjuk diri. Bukan untuk membeli produk!

Oleh karena itu ketika Anda jualan di social media, Anda harus berjualan menyesuaikan behaviour (tingkah laku) social media tersebut. Cek juga postingan social media behaviour disini https://t.me/tantanhilyatana/631

Yang Anda promosikan di social media ke cold audience adalah bukan produk Anda, tetapi lead magnet Anda. Dengan cara ini memungkinkan Anda giving value terlebih dahulu, sharing terlebih dahulu…

Boleh mempromosikan/jualan produk, tapi untuk retargeting ads dan custom audience saja (warm dan hot audience).

Boleh mempromosikan/jualan produk, tapi hanya ketika Anda benar-benar sudah mendapatkan target audience yang perfect dengan produk Anda. Jika tidak, maka Anda akan menghabiskan banyak biaya untuk testing audience (biasanya kisaran $1000 s/d $3000), serta boncos.

Orang-orang beli produk Anda adalah karena mereka merasakan terkoneksi dengan Anda (brand/bisnis/produk Anda), mereka terbantukan dan merasakan manfaat oleh keberadaan Anda. Sehingga yang Anda lakukan kepada cold traffic adalah bukan jualan dulu, tapi giving value dulu melalui lead magnet Anda.

👉 Karena bisnis adalah CONNECTING & HELPING people, and making people HAPPY!

Image may contain: text
Standard
economy

Hard Selling di Social media

Hasil Perbandingan Facebook Ad Campaign Hard-Selling vs yang Non Hard-Selling…

Campaign hard-selling menghasilkan ROAS (Return On Advertising Spend) 151%. Campaign ini langsung mempromosikan sales page.

Sedangkan campaign non hard-selling menghasilkan ROAS 530%. Campaign ini tidak langsung promo sales page, tetapi melakukan education marketing dengan menawarkan lead magnet.

Jadi mana yang lebih profitable?

Jelas dunk! ROAS 530% lebih gede dan lebih profitable 👉 Campaign yang non hard-selling.

Dua jenis campaign tersebut adalah campaign untuk cold audience.

Ada lagi nich campaign yang lebih dahsyat, menghasilkan ROAS 3750%. Spent 4 juta menghasilkan 150 juta. Adalah campaign warm audience, yaitu retargeting.

The take away TIPS:

Silahkan hard-selling di Facebook Ads jika ingin ROAS kecil 😀
Maksud saya, lebih baik tidak melakukan hard-selling supaya ROAS gede.
Kenali funnel pages bisnis Anda, dan harus selalu lakukan retargeting ads jika ingin RAOS lebih gede lagi.

Semoga bermanfaat 🙏

Sumber: Telegrm Tantan H.

Standard
economy

Mindset facebook marketing dan web based marketing

Dunia digital semakin tumbuh dan mulai mapan. Mapan dalam artian sudah mulai tampak pola dan arahnya. Berbeda dengan tahun 2007 dulu ketika saya pertama kali berlanggananan internet(kenal internet sebelum tahun 2000, yaitu Telkomnet Instant).

Kalau dulu di tahun 2007 hingga 2010 cara mencari duit yang utama bagi pengguna internet di Indonesia adalah dengan membuat website lalu dipasangi adsense atau membuat web untuk ikut Amazon Affiliate. Kini pilihan untuk mencari uang melalui internet sudah berbagai macam cara.

Kalau dulu pilihan utama untuk mencari uang adalah pasar pengguna internet di Eropa dan Amerika, kini pengguna internet lokal juga menjadi target pasar yang menjanjikan. Menjanjikan jika kita berjualan online, tapi tidak untuk program PPC seperti Google Adsense karena nilai klik untuk pengguna lokal sangat kecil.

Berjualan Online Dimana?

Yups berjualan online menjadi sebuah pekerjaan yang cukup menjanjikan saat ini. Karena pengguna internet di Indonesia sudah cukup besar dan mayoritas menggunakan perangkat mobile. Sebagai contoh, web saya yang memiliki ribuan pembaca jika dilihat statistiknya maka sekitar 80% membuka dengan perangkat mobile(diluar tablet)/.

Website

Untuk memulai berjualan online kita harus menentukan channel apa yang ingin kita pakai untuk memasarkan natau memajang barang yang akan kita jual. Umumnya kita berjualan di Website, entah itu website pribadi yang kita isi dengan kontent produk atau website pribadi yang memang kita jadikan toko online(bisa dengan menggunakan Cms WordPress+plugin Woocomerce). Atau kita bisa berjualan di website orang yaitu marketplace atau situs classified ads(iklan baris).

Social Media

Alternatif lainnya adalah berjualan di social media, bisa facebook atau Instagram. Loh bukannya Social media itu juga website selain ada Apps-nya juga? Saya membedakan website atau Social media berdasarkan sifatnya. Kalau website yang saya maksud dibangun untuk special purpose yaitu berjualan, sedangkan social media tujuan utamanya adalah wadah berinteraksi yang disisipi dengan orang yang berjualan.

Mindset Berjualan Online

Untuk laku berjualan online maka yang diperbanyak adalah orang yang melihat produk kita. Tapi tidak asal banyak, namun orang-orang tersebut harus tertarget. Tertarget yang sekiranya memiliki ketertarikan akan produk kita.

Untuk mentarget orang-orang yang relevan maka diperlukan konten yang relevan. Misalkan untuk mentarget ibu-ibu maka yang postinglah kontent yang berhubungan dengan ibu-ibu seperti dandan, masakan, mengurus anak, fashion wanita , dll.

Semakin banyak yang melihat maka potensi yang akan membeli juga semakin banyak. Perbandingan antara yang sudah mellihat produk kita dan yang akhirnya membeli disebut dengan konversi. Semakin banyak yang akhirnya membeli maka semakin besar angka konversinya.

Jadi kita perlu content untuk menarik potential buyer, cara ini disebut dengan content marketing. Tapi bisa juga untuk berjualan tidak perlu content marketing, jadi hard selling alias menjual langsung. Syarat untuk menjual langsung adalah harus tertuju kepada orang-orang yang sedang mencari produk kita. Biasanya kita dapat menjual seperti itu di Marketpalce(Toped, BL, lazadut, Shopee) atau di Classified ads(OLX), karena orang-orang yang sudah membukanya biasanya benar-benar orang yang sedang mencari.

Cara Mendatangkan Potential Buyer

Hmmm bingung juga ya mulai bahasnya dari mana? Begini, saya termasuk kategori lawas dalam dunia internet. Bukan karena saya mengenal internet sejak zaman Telkomnet Instant tapi karena saya mengenal dan lebih ke Google dan Website minded.

Dulu di zaman saya awal-awal menggeluti mencari uang dari internet sumber traffic satu-satunya adalah Google. Anda bisa menghasilkan dari menguasai SEO atau mati. Adwords sudah ada tapi belum populer, mengapa? Karena persaingan belum menggila. Kita  bisa menguasai pasar dengan website di optimisasi SEO-nya.

Tahun 2008-2009 saya mempromosikan bisnis lokal di Yogyakarta dengan website dan SEO yang mudah, karena persaingannya tidak berdarah. Hasilnya? Omset tumbuh hingga 100%.

Sosial Media pada saat itu? Facebook belum mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Periode tahun -tahun segitu(atau sebelumnya) ada penulis buku Bob Julius Onggo yang menulis buku Google is My Salesman. Intinya sama dengan yang saya lakukan, search engine Google menampilkan situs kita di posisi tertinggi hasil pencarian ketika orang mencarinya.

Saya menyebutnya Organic Traffic dengan SEO.

Zaman SEO telah berakhir?

SEO tidak akan berakhir, masih ada dan selalu ada orang yang melakukan pencarian di Google. Tapi persaingan di hasil pencarian Google semakin hari semakin berat,, apalagi untuk keyword tertentu. Yaitu biasanya adalah kata kunci yang berhubungan dengan produk yang dapat dijual online. Selain itu traffic organic memanfaatkan SEO membutuhkan waktu berbulan-bulan, alias tidak instant.

Lalu belajarlah lagi mengenai Adwords. Program iklan berbayar dari Google ini merupakan shortcut untuk traffic organic dari SEO. Karena pikir saya adalah untuk mensiasati SEO secara instant maka selama ini saya hanya fokus Adwords untuk di halaman Search Result. Untuk Adwords yang Display ADS konsepnya adalah seperti Facebook Ads yaitu “penggoda”. Hmm apa maksudnya?

Facebook Ads

Facebook booming dengan jumlah pengguna di Indonesia yang telah mencapai puluhan juta orang. Tanpa saya sadari ini adalah wadah promosi yang ampuh. Banyak testimoni dari orang-orang yang lebih muda dari saya telah sukses memanfaatkan facebook sebagai sarana berjualan.

Setelah tau pun saya masih berpikir, apa iya sih dan bagaiamana Facebook bisa mengalahkan Google sebagai sarana penggiring traffic? Ternyata benar saja. Satu persatu cerita dari orang-orang yang saya temui bercerita bagaimana mereka sukses berjualan di Facebook. Telatlah saya.

Inti dari Facebook Ads adalah menggoda.

Berbeda dengan orang yang datang ke website kita melalui search engine atau orang yang datang ke market place atau situs iklan baris(classified ads), mereka adalah orang yang benar-benar mencari. Tapi di facebook iklan yang muncul adalah iklan yang menggoda orang untuk membeli. Konsep ini serupa dengan Adowrds display ads yang menampilakn iklan di jaringan website(pemiliknya memang menyediakan spot untuk memajang iklan).

Namun yang digoda bukan sembarangan orang. Facebook Ads dapat menggoda(menampilkan iklan) ke sekelompok orang dengan jenis kelamin, range usia, ketertarikan akan hal tertentu. Sehingga iklan penggodanya akan lebih besar kemungkinannya untuk berhasil(produk terjual). Bahkan saat ini “Cara berjualan di Facebook” menjadi salah satu komoditi unggulan jualan. Hahaha,,, orang berjualan cara jualan. Yang belum tentu orang yang ngajari itu sudah pernah sukses berjualan di facebook. Harga course-nya pun termasuk gila.

Rahasia konsep jualan di facebook sebenarnya ada dua, dan ini simpel anda nggak perlu keluar uang ratusan ribu hingga jutaan untuk mengetahui rahasia ini. Berikut konsepnya:

  1. Bangun Fans Page Tertarget
    Targetkan secara spesifik para fans untuk page anda. Misal ibu-ibu yang telah memiliki anak, bapak-bapak pencinta mobil.
    Rawat Fanspage anda hingga puluhan ribu like, ratusan ribu like, atau bahkan jutaan. Posting hal yang menarik, kalau perlu promosikan postingan di fans page anda untuk meningkatkan jumlah like.
    Begitu ada produk yang ingin anda jual, targetkan ke orang-orang yang telah meng-like fans page anda. Potensinya besar kalau anda merawat dengan benar fans page anda selama ini, karena jika postingannya benar dan spesifik maka orang-orang yang meng-like adalah benar-benar orang yang tertarget.
  2. Click to Web Ads
    Cara lainnya untuk berjualan adalah menggunakan iklan yang mengarah ke canvas atau landing page(website)kita. Salah satu kursus online yang jual mahal menanamkan bahwa tujuan beriklan di Facebook adalah mengarahkan orang untuk datang ke website kita dan kita berjualan di sana. KURANG TEPAT!
    Kita bisa berjualan di marketplace, di postingan facebook kita langsung atau diarahkan ke website kita, bukan hanya di website.
    Hanya saja dengan mengarahkan audience ke landing page(website) kita memiliki beberapa keuntungan seperti audience yagn datang ke website adalah orang yang telah tertarik akan postingan iklan kita dan oran bitu bisa kita targetkan ulang, selain itu penjabaran di landing page lebih panjang dan mendetail sehingga informasi yang disampaikan akan cukup jelas dan bisa lebih menggoda, dan yang terakhir di halaman website itu terserah kita mau kita arahkan audience untuk closing melaui sms/wa atau mengikuiti prosedur shopng cart.
    Hanya saja perlu disadari, dengan keunggulan tersebut biaya iklan CTW lebih mahal dari pada prmosi membangun fans page dan berjualan di postingan fans page. Intinya itu rangkuman dari saya. Masih mau ikut kursus jualan di facebook yang harganya au’jubileh? Berjualan kok cara jualan hehe.

 

Standard
Buku Harian, economy

Karena Marketnya Memang Ada

Om BP berjualan BM second dengan harga yang lebih mahal dari harga pasaran. Tapi tetap laku, kenapa?

  1. Karena pasar fanatik terhadap produk BM memang ada.
  2. Karena reputasi om BP dikalangan pencinta BM sudah terbentuk.

Sebenarnya bukan bagaimana menjual barang dengan harga termurah, tapi menjual barang yang terjamin karena reputasi si penjualnya. Dua alasan di atas adalah hal yang masuk akal dan saling menguatkan, walaupun alasan harga murah lumrah menjadi salah satu pertimbangan customer tapi dalam hal ini ada segmen yang tidak mementingkan selisih harga dan lebih mementingkan kualitas barang karena dijual oleh orang yang memiliki reputasi.

So,, reputasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjual. Reputasi menjadi tool untuk meleverage penjualan, lalu pertanyaannnya bagaiman membangun reputasi ketika menjual?

  1. Reputasi butuh waktu, sharing kebaikan kita dalam satu bidang. Dengan begitu perlahan reputasi akan terbentuk.
  2. Uang. Uang di sini bukan untuk branding, ini bukanlah perusahaan besar yang punya dana bezaarrrr untuk iklan agar produknya laku. Uang di sini untuk membangun infrastruktur bisnis agar si pemilik bisnis benar-benar terlihat serius dibisnis ini.
    He’s build garage, showroom and website sehingga orang yang melihat benar-benar terkesan dengan bisnisnya. Ujung-ujungnya reputasi.

Hal sederhana seperti ini yang perlu saya tiru. REPUTASI.Apakah itu equal dengan brand awarness pada merek-merek mahal? Sepertinya iya. Kalau sudah punya reputasi pasar akan mengenal dan datang. Bahkan Niche marktet yang disasar om BP pun bisa menghidupi bisnisnya.

Pasar Indonesia begitu besar. Niche merket pun cukup untuk sebuah skala bisnis kecil karena pasar keseluruhannya cukup besar.

Lalu, BAGAIMANA SAYA MEMBANGUN REPUTASI?

Standard
economy

Hot to Impresse

To impress startup competition juries, create fancy features and fancy story.
To impress investor, show amazing growth projection.
To impress co-founder, be true to your vision and show commitment
To impress employees, give opportunities and reasonable compensation
To impress journalist, create bombastic news. Controversial is preferred
To impress customers, address the pain points and always deliver the promise

Choose wisely who you want to impress. Resource is limited and sometimes, wrong choice may lead to dead end

From: Facebook Radita L.

Standard
economy

Rahasia orang Kaya Bertambah Kaya

Mengapa orang kaya tetap kaya atau bahkan bertambah kekayaannya? Rahasianya ada di investasi mereka. Bryan Borzykowski mempelajari cara mereka.

Menjadi kaya dan tetap kaya…

Ketika kita punya sedikit uang untuk diinvestasikan, kita mungkin membeli reksadana atau saham, itupun kalau kita tak menghabiskannya untuk membeli perangkat elektronik terbaru.

Ini berbeda dengan orang kaya sejati. Mereka sering menanamkan uang mereka di properti, seni, bisnis, dan investasi lain yang hanya bisa kita miliki dalam mimpi. Cara orang-orang ini dalam menggunakan uang mereka membedakannya dari kebanyakan kita, yang membuat mereka terus-menerus mengeruk untung.

Lihat Joshua Coleman, misalnya. Ketika keluarganya menjual perusahaan telekomunikasi mereka di Chicago seharga 400 juta dollar AS atau sekitar Rp 5,2 triliun pada tahun 2004, mereka tidak lantas memakai uangnya untuk membeli sesuatu yang megah. Alih-alih, mereka mencari nasehat terbaik untuk mengamankan kekayaan itu dan membuatnya tumbuh.

Upaya ini menimbulkan ide bagi Coleman, kini 27 tahun. Tahun 2011 ia meluncurkan Momentum Advanced Planning, sebuah firma yang menghubungkan masyarakat dengan para ahli pajak, ahli hukum, dan penasehat keuangan. Jika bisnis ini berjalan, ia bisa mendapat untung besar, seperti halnya bisnis keluarganya sebelumnya.

Jika Anda merasa memulai sebuah usaha adalah cara yang aneh untuk menanamkan uang Anda, mungkin Anda tak termasuk dalam golongan superkaya. Orang-orang yang memiliki aset sedikitnya 30 juta dollar (sekitar Rp 395 miliar) dijuluki super kaya dan berinvestasi di saham dan obligasi, tapi juga mereka menanamkan uang dengan membeli perusahaan dan berinvestasi pada sekuritas yang tak biasa, seperti penanaman modal di layanan sewa pesawat. Mereka juga memiliki karya seni dan mobil yang mereka harap akan meningkat nilainya seiring waktu.

“Ini namanya risiko alfa,” kata Coleman. “Di sini situasi bisa terbalik setiap saat.”

Sisi buruknya, kebanyakan investasi seperti ini lebih berisiko ketimbang investasi tradisional, maka lebih besar pula peluang untuk kehilangan sejumlah besar uang. Investasi ini juga kurang cair dibandingkan dengan saham, dan membutuhkan pembicaraan berbulan-bulan, bahkan tahunan, agar orang-orang kaya bisa menarik uang mereka dari investasi seperti itu.

Bahkan jika Anda tak punya miliaran rupiah uang untuk diinvestasikan, Anda bisa belajar sedikit tentang cara-cara orang kaya meraup untung dan menerapkannya untuk investasi Anda sendiri.

Investasi hanya untuk orang kaya? Mungkin saja…

Orang-orang kaya mempunyai akses kepada banyak jenis investasi yang tidak diketahui oleh orang-orang selain mereka sendiri.

Closed-end funds, sebuah investasi jangka panjang dengan dana biasanya diikat dalam jangka waktu minimum lima tahun, menawarkan orang-orang kaya akses untuk keuntungan besar dan bunga tinggi.

Penyewaan pesawat terbang merupakan salah satu area investasi yang berpeluang besar, kata Ian Marsh, CEO firma pengelola keuangan Fleming Family dan Rekan yang berpusat di London, yang awalnya dibentuk untuk mengelola kekayaan Ian Fleming, pencipta tokoh James Bond.

Kliennya bekerja dengan sebuah perusahaan bernama Doric, yang menggunakan uang untuk membeli pesawat yang disewaikan ke perusahaan penerbangan besar seperti Emirates Airlines yang berkantor di Dubai.

Para investor ini akhirnya akan mendapatkan uang mereka ketika pesawat dijual, tetapi mereka bisa mendapat bunga 9 persen per tahun selama masa sewa itu. Bandingkan dengan standar keuntungan tahunan untuk perusahaan Standard and Poor’s S&P 500, patokan investasi saham utama di Amerika, sekitar 3 persen.

Beberapa closed-end funds menyaratkan jumlah ratusan ribu dolar, tetapi untuk dana sewa-beli pesawat, biaya untuk memulainya cukup masuk akal, kata Marsh. Seri investasi SKY CLOUD, yang membeli pesawat Airbus A380-800s dan menyewakannya kepada Emirates Airlines, memiliki investasi minimum 10.000 euro (atau 13.822 dollar) dan satu pungutan biaya 5 persen, tergantung berapa jumlah investasinya.

Para investor super kaya di Inggris Raya dan di mana-mana juga membeli tanah pertanian. Dengan meningkatnya jumlah populasi manusia, permintaan makanan turut meningkat dan orang-orang yang punya tanah pertanian yang baik akan mendapat keuntungan besar, kata Marsh. Tanah subur merupakan sumber daya yang terbatas: semakin sulit sesuatu didapat maka semakin besar keuntungannya.

Menurut Marsh, tanah yang subur bisa mendatangkan keuntungan sekitar 4 persen setahun untuk investor dan tambahan penigkatan nilai seiring dengan jalannya waktu. Beberapa investor tetap dapat menanamkan modal di pembelian pesawat atau membeli tanah pertanian, tetapi ada beberapa penanaman modal jangka panjang yang menawarkan investasi di infrastruktur global, seperti pada minuman anggur.

Ada juga beberapa perusahaan publik yang sahamnya bisa Anda beli di pasar modal. Misalnya Gladstone Land yang merupakan perusahaan publik Amerika Serikat yang membeli tanah-tanah pertanian.

Thinkstock Orang super kaya punya kebiasaan investasi yang berbeda dengan orang kebanyakan.

Memodali lebih banyak bisnis, tentu saja…

Sangat alami bagi industrialis yang kaya, yang mendapat uangnya dari kepemilikan perusahaan, untuk membeli lebih banyak lagi perusahaan. Coleman berinvestasi di sejumlah perusahaan, kebanyakan dalam layanan jasa professional dan sektor teknologi. Ia juga memiliki saham di sejumlah perusahaan yang tak ia sebutkan secara pasti angkanya.

“Banyak,” katanya.

Biasanya dia berinvestasi dengan sekelompok investor dan perusahaan ekuitas swasta dengan menanamkan modal lebih dari 1 juta dollar untuk menguasai satu perusahaan.

Menyenangkan ketika melihat satu perusahaan tumbuh dari bukan apa-apa, menjadi besar dan banyak investor mendapat pengalaman dan jejaring untuk menolong sebuah perusahaan untuk lepas landas,begitulah kata David Rose, seorang pengusaha super kaya yang berasal dari New York dan penulis buku Angel Investing: The Gust Guide to Making Money and Having Fun in Startups.

“Bayangkan berinvestasi di Google ketika mereka masih berkantor di sebuah peti kemas,” katanya. “Anda akan bertemu para pendiri perusahaan itu seminggu sekali, mendapat laporan dari tangan pertama tentang yang sedang terjadi dan melihat perusahaan tumbuh. Ini bisa jadi amat menyenangkan.”

Selain itu, tentu juga bisa menguntungkan. Investor yang berani menanamkan uang mereka dengan penuh risiko, 50 perse  perusahaan start-up atau perusahaan dengan kemitraan gagal total, kata Rose. Seorang investor kaya biasanya menghasilkan 20 sampai 50 kali lipat dari investasi awal mereka pada satu atau dua perushaan yang sukses.

Rose sendiri biasanya menanamkan uang antara 50.000 dollar hingga 100.000 dollar dalam satu perusahaan, dan ia mengaku meraih jutaan dolar dari beberapa investasi yang dilakukannya.

Pada saat ini, sulit bagi investor biasa untuk menanamkan uang mereka secara langsung di bisnis, kecuali kepada teman atau anggota keluarga, kata Rose.

Namun sebuah undang-undang baru di Amerika Serikat dikeluarkan tahun 2012 membolehkan investor biasa untuk menanamkan uang di usaha start-up. Belum jelas bagaimana ini bisa mendatangkan keuntungan.

Membiayai hobi mahal…

Investasi ‘hobi’ seperti karya seni, mobil, minuman anggur, bahkan alat musik, populer di kalangan orang kaya, kata Guy Hudson, direktur eksekutif dan pimpinan pengembangan usaha Stonehage Investment Partner di London, sebuah perusahaan pengelolaan keuangan global.

Selain karena aset-aset ini tumbuh nilainya, mereka juga dibeli untuk digunakan atau untuk dinikmati.

“Investasi seperti ini muncul karena hasrat para investor terhadap barang-barang tertentu,” kata Hudson.

Para investor yang menanamkan modal di ‘investasi hobi’ yang tepat bisa mendapatkan keuntungan yang besar dengan kuncinya adalah menemukan sesuatu yang langka. Menurut riset perusahaan Hudson, nilai investasi hobi meningkat hampir 15 persen tahun 2013.

Ada beberapa cara bagi investor biasa untuk membiayai investasi hobi, kata Hudson. Pendanaan minuman anggur yang dijual oleh The Wine Investment Fund menyaratkan investasi terkecil 10.000 euro, misalnya, dan ada beberapa pendanaan yang berfokus pada karya seni dan mobil.

Perlu dicatat: beberapa perusahaan menyaratkan para penanam modal memiliki akreditasi, maka bahkan ketika biaya awalnya rendah belum tentu Anda bisa menanamkan modal di sana.

Anda juga bisa membeli karya seni dengan harga terjangkau di lelang. “Seniman yang sedang meniti karir menjual karya mereka dengan harga yang wajar,” katanya.

Memuaskan dahaga para pemburu properti…

Banyak orang super kaya senang memarkir uang mereka, terkadang sampai jutaan dolar,  pada sebidang properti, kata Paul Patterson, wakil direktur Toronto’s RBC Wealth Management.

Yang lainnya menyatukan uang dengan sesama mereka untuk membeli properti komersial, dan ada yang membeli kondominium berharga mahal di London, New York, dan beberapa kota global lain.

Banyak yang berharap bisa menjual kembali propertinya dengan keuntungan besar, tapi sambil menunggu hasilnya, mereka bisa menempati tempat tinggal itu ketika sedang berkunjung ke kota tersebut, kata Patterson.

“Pada umumnya mereka membeli dua atau tiga rumah di tempat berbeda di seluruh dunia,” tambahnya. “Nilai jangka panjangnya bagus sekali, terutama di pasar utama.”

Sementara investor biasa mungkin tak bisa membeli kondominium mewah di New York, tapi bisa membeli rumah di lingkungan tempat tinggal mereka yang bisa disewakan atau dijual ketika terjadi peningkatan harga.

Banyak perusahaan publik yang membeli properti komersial dan tempat tinggal , namanya Real Estate Investment Trust, yang sahamnya bisa dibeli oleh setiap investor di pasar saham. Perusahaan seperti ini sensitif terhadap naik turunnya pasar saham, tetapi seringkali harga saham mereka naik seiring dengan kenaikan harga sewa dan nilai jual properti.

Versi bahasa Inggris artikel ini dapat dibaca di Why the rich stay rich: they don’t invest like the rest

via Rahasia orang Kaya Bertambah Kaya – Kompas.com.

Standard
economy

Jurus “Salesman” Terhebat di Dunia – Kompas.com

KOMPAS.com — Di jagat penjualan, nama Joe Girard sudah tidak asing lagi. Guinness Book of World Records menggelarinya “The World’s Greatest Salesman”. Konon, dia bisa menjual sekitar enam mobil per hari. Nah, berikut ini “bocoran” dari jurus rahasianya.

Rahasianya, Joe berusaha memperlakukan pelanggan-pelanggannya layaknya sahabat dekat. Untuk itu, Girard memiliki kebiasaan sederhana yang membantunya mengingat setiap detail informasi tentang pelanggan-pelanggannya.

Apa kebiasaan itu? Mencatat! Ya, Girard biasa mencatat setiap informasi yang dirasanya penting tentang setiap pelanggannya, seperti tanggal lahir, nama orangtua, nama anak, di mana mereka tinggal, makanan kesukaan, dan segala data personal yang dianggap penting.

Bagaimana Girard bisa memperoleh informasi yang demikian detail? Jawabnya ialah dengan mendengarkan! Informasi semacam itu “dikumpulkannya” selama Girard berinteraksi dengan pelanggan. Saat perkenalan, pertemuan awal, probing, negosiasi harga, pokoknya setiap saat dia berinteraksi dengan mereka. Girard berusaha memperhatikan setiap ucapan pelanggan meskipun tidak ada kaitan langsung dengan produk yang dijualnya.

Dari situlah, poin-poin penting kemudian dituangkannya ke dalam buku catatan khusus yang berisi data-data pribadi pelanggan.

Tidak berhenti di situ, Girard akan membaca-baca lagi catatannya untuk menemukan cara “memanfaatkan” data-data tersebut. Salah satu kebiasaan uniknya adalah dengan mengirimkan kartu ucapan secara rutin kepada semua pelanggannya. Isi kartunya pun berbeda-beda, tergantung “topik” yang relevan dengan pelanggan.

Bahkan, konon rata-rata setiap pelanggannya akan mendapatkan satu ucapan tiap bulan. Setidaknya, dalam setahun, mereka akan mendapatkan 12 kartu ucapan! Wow!

Hal ini dilakukan Girard tidak hanya kepada prospek yang didekatinya, tetapi juga kepada para pelanggan-pelanggan lamanya. Karena itu, sebagian besar akhirnya kembali lagi kepadanya saat membutuhkan kendaraan. Yang tidak kalah penting, tak sedikit yang mereferensikan Girard kepada sahabat atau kerabatnya.

Sulitkah yang dilakukan oleh Joe Girard ini? Dahulu, apa yang dilakukannya memang membutuhkan ketekunan yang luar biasa. Bayangkan, untuk mengirimkan sebuah surat dia harus melakukan sederet aktivitas berikut ini.
1. Mengecek informasi tentang pelanggan di dalam buku catatannya.
2. Membeli kertas, amplop, dan prangko.
3. Menulis surat sesuai dengan informasi personal pelanggan.
4. Memasukkan surat ke dalam amplop dan merekatkan prangko.
5. Berjalan ke kotak pos terdekat untuk mengirimkan surat.
6. Menunggu sampainya surat ke pelanggan yang mungkin butuh beberapa hari.

Mohon dicatat, semua itu dilakukannya kepada hampir semua pelanggannya selama sebulan sekali dalam waktu satu tahun! Wow!

Kalau sekarang? Anda bisa melakukannya secara jauh lebih cepat, jauh lebih murah, dan jauh lebih mudah! Hanya dalam hitungan detik dan beberapa gerakan jari, Anda bisa langsung menyapa pelanggan nun jauh di ujung negeri.

Ingin mengirimkan ucapan selamat? Anda tinggal mengetiknya di handphone dan mengirimkannya. Saat itu juga, pelanggan Anda sudah bisa menerima dan membaca pesan yang Anda kirimkan. Tidak perlu menunggu dalam hitungan hari sebagaimana yang dilakukan oleh Joe Girard. Jadi, berani coba?

Ardhi Ridwansyah adalah Chief Operations di MarkPlus Institute, unit bisnis di bawah MarkPlus, Inc, yang memberikan jasa pelatihan dan pengembangan SDM perusahaan. Ardhi juga penulis beberapa buku pemasaran dan bisnis (sebagian besar ditulis bersama Begawan Marketing Hermawan Kartajaya), antara lain trilogi buku Selling with Character, Service with Character, serta Branding with Character (2011), Leadership 3.0 (2012), Local Champion (2013), WOW Selling (2014), dan WOW Leadership (2014). Dia juga rutin menjadi pembicara, antara lain di Safari Seminar Series yang diselenggarakan MarkPlus Institute di 17 kota, Executive Education Program yang dilaksanakan untuk para manajer senior di Jakarta, serta Marketeers Dinner Seminar yang diselenggarakan di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

via Jurus “Salesman” Terhebat di Dunia – Kompas.com.

Standard
economy

This Entrepreneur Might Be the ‘Best’ in Shark Tank’s History

He created the International Gloving Championship through EmazingLights, and it’s helped him make his company synonymous with gloving. EmazingLights has 80% market share, and he tells the Sharks that he guarantees that his four or five competitors “do not operate on the same level.”

Lim’s companies have grossed over $13 million and together made $7.4 million in revenue in 2014. He tells the investors that he wants to make EmazingLights a billion-dollar company.

The Sharks are intrigued. We’ve summarized the fight for a deal:

  • Kevin O’Leary: Worried about the possibility of gloving being a fad, but very impressed with Lim’s work ethic. Will loan $650,000 in exchange for 3% equity. Lim respectfully declines because he’s looking for a hands-on partner.
  • Daymond John: Will get high-level licensing deals, and can get into stores like Spencer’s and Party City, if desired. Will give $650,000 for 20% of money made from licensing deals.
  • Robert Herjavec and Lori Greiner: Are hugely impressed by his performance and drive, and want to be important members of his team. Will invest $1 million for 8% equity.
  • Mark Cuban and John: Cuban joins John’s deal. Cuban will give $650,000 for 5% equity and will handle strategy and get EmazingLights performances into the Dallas Mavericks’ halftime shows. John will take licensing duties and take 20% commission. “So you have the sports guy and the kinda music/fashion guy who’s going to work with you, or you have the Queen of QVC and the security guy,” John says, taunting Greiner and Herjavec.
  • Herjavec and Greiner: Together have an international retail network and can also get EmazingLights into arenas. Offering $1 million for 5% equity.

Ultimately, Lim makes a deal with Cuban and John.

This Entrepreneur Might Be the ‘Best’ in Shark Tank’s History.

Standard