Buku Harian Kehidupan

Karya Tulis yang Enak Dibaca dan Valid

Menulis susah karena kamu tidak menguasai bidang yang akan kamu tulis. Sedangkan di sisi lain, hasil dari karya tulismu “dituntut” untuk seperti karya tulis seoarang ahli yang menguasai bidang yang diulas tersebut.

Seorang ahli di sebuah bidang yang kemudian menulis sebetulnya dapat saja membuat karya tulis, namun hasil karya tulisnya belum tentu enak dibaca. Sedangkan orang yang biasa menulis namun tidak memiliki keahlian tentu bisa menghasilkan karya tulis namun kedalaman dan validitas tulisannya tidak dijamin berbobot.

Dan anehnya, biasanya pembaca dapat menilai kedalaman tulisan yang diulas oleh para ahli ketimbang oleh penulis yang dituntut oleh deadline redaksi. Namun produktivitas tulisan oleh penulis yang  dituntut oleh redaksi perlu diacungi jempol. Dengan jumlah karya tulis yang konsisten setiap harinya, dengan teknik penulisan yang enak dibaca(walaupun terkadang kurang berbobot).

Lalu bagaimana menggabungkan kemampuan menulis dari seorang ahli dan seorang penulis harian di media online yang dituntut sejumlah karya tulis setiap harinya oleh redaksi?

SOLUSI Menulis Mudah

Lalu solusinya adalah menulis saja dulu sebagai seorang penulis seakan-akan anda sebagai ahli yang menguasai bidang tulisa anda. Buat karya tulis ada mengalir dan enak diabca, masalah validitas tulisan “dipikir keri”. Setelah tulisan jadi dan enak dibaca, baru anda melakukan korespondensi dengan para ahli, sehingga tulisan anda yang sudah ada dan enak untuk dibaca direvisi dalam hal validitas-nya.

Sehingga hal yang pertama yaitu karya tulis mengalir dan enak dibaca sudah terpenuhi, baru setelah itu validitas ulasannya juga terjamin.

Namun dalam hal revisi tersebut bisa jadi tulisan menjadi lebih pendek, karena beberapa fakta yang sudah kita jabarkan ternyata tidak sesuai atau bahkan too goog to be true. Namun bisa juga menjadi karya tulis kita menjadi lebih panjang karena dapat dikembangkan dari beberapa fakta baru yang didapat dari hasil korespondensi.

Jadi jangan dibatasi dulu dengan terlalu banyak aturan, ibaratnya kita menulis fiksi saja dulu(tapi yang dengan dasar fakta/pengetahuan juga) baru setelah itu direvisi oleh fakta-fakta yang didapat kemudian oleh ahli.

Standard
Buku Harian Kehidupan

Sebuah Jalan Content Creator

Saat ini kita hidup di zaman milayaran layar. Saat generasi baby boomers lahir layar hanyalah layar TV, atau layar personal computer yang bahkan mayoritas tidak terhubung internet. Saat ini layar smartphone dengan resolusi tinggi plus terhubung dengan jaringan internet menjadi layar dengan jumlah dominan.

Namun layar bukanlah sekedar teknologi yang dipandang dari resolusi DPI(dot per inch) saja. Setiap layar pasti membutuhkan content untuk ditampilkan pada bidang tersebut. Kertas sebagai media cetak sudah mengibarkan bendera putih kepada layar sebagai media elektronik saat ini.

Kita hidup pada industri content yang akan mendapatkan penghasilan dari iklan atau sejenisnya. Jika dulu industri content hanya pada media penyiaran besar di bidang elektronik yaitu channel TV dan radio, namun saat ini di era internet industri content tidak di monopoli oleh Goliath media, namun juga dapat dijalani oleh siapa saja.

Tipe Content di Internet

Dulu saat awal-awal era internet content yang dapat dijangkau oleh khalayak adalah text. Ya text berupa tulisan di website-website atau yang biasa kita sebut dengan artikel. Entah itu artikel berita(ya berita adalah termasuk industri content), blog, forum dan info-info ulasan.

Bagaimana content text berupa artikel ditemukan oleh pembaca yaitu melalui google(pola penyebaran). Atau jika situs berita sudah punya nama maka pembaca akan mengarah langsung ke website tersebut. Lalu bagaimana saat ini?

Saat ini pola tersebut tidak hilang, namun bukan lagi menjadi satu-satunya jalan. Sekarang ada sosial media untuk menyebarkan link dari artikel dan yang terpenting content yang dapat dinikmati oleh khalayak bukan hanya sekedar text lagi.

Ada video dan gambar yang ekosistem penyebarannya bukan hanya melalui google lagi, melainkan social media yang merujuk pada pertemanan dan intrest dari seorang user. Anda ingin bergelut difoto-foto bagus ada Pintrest dan Instagram. Ingin bergelut di video parodi pendek-pendek ada TikTok dan Snack Video. Ingin membuat video lebih panjang dan berbobot ada Youtube.

Kenapa Video Baru Sekarang

Kenapa content video baru sekarang atau paling tidak baru 5 tahun belakangan ini naik? Jawaban sederhananya karena secara infrastruktur jaringan internet ya baru tumbuh belakangan ini. Lebih dari 10 tahun yang lalu bandwidth di Indonesia masihlah mahal dan pelan.

Selain itu perangkat untuk pengambilan gambar video atau foto semakin ke sini semakin terjangkau. Dulu untuk foto atau video yang bagus haruslah menggunakan kamera DSLR, kemudian kamera mirrorless muncul, dan saat ini cukup menggunakan HP maka video atau foto yang bagus juga dapat dihasilkan asalkan mengerti teknik pengambilan gambarnya.

Secara naluriah bagi manusia content berupa foto dan video lebih menarik dibanding teks. Yang saya maksuda naluriah adalah jika ditampilkan secara sekilas atau istilahnya menggoda, tentu manusia lebih tertarik gambar daripada tulisan.

Pola Penyebaran

Nah pola penyebaran melalui tehnik menggoda itulah yang terjadi pada social media atau bahkan youtube, saat anda tidak mengetikan keyword apapun di kolom pencarian maka anda akan digoda oleh konten-konten yang menarik. Konten yang menarik pun berbeda bagi setiap insan, maka algoritma sebuah social media akan mempelajari ketertarikan anda(intrest). Sehingga potensi anda untuk mengkonsumsi content dan menghabiskan waktu lebih banyak di platform meraka akan lebih besar.

Semakin besar content yang dikonsumsi akan semakin besar jumlah iklan yang tampil, dan dikali jumlah user yang buuuanyak maka disitulah “industri content digital” menghasilkan uang.

Lalu dengan adanya social media yang mempelajari ketertarikan seorang user, terjadi pergeseran bagaimana pola penyebaran sebuah content. Dari yang tadinya hanya mengkonsumsi informasi berdasarkan pencarian, Kini content disajikan berdasarkan algoritma ketertarikan(intrest), dan it’s work.

Kita jadi bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengkonsumsi content di sebuah platform digital, karena content tersebut sesuai dengan minat/ketertarikan kita. Jika content berdasarkan pencarian hanya menyasar kepada orang yang niat dan butuh(karena mengetikkan di kolom pencarian) sehingga jumlah konsumsi content-nya segitu-gitu saja, dan tidak bisa ditingkatkan secara signifikan(selain dengan cara menampilkan content yang related).

Lalu Produksi Content Jenis Apa?

Saya senang menjawabnya dengan jawaban klasik namun selalu terasa pas: Ya tergantung.

Begini,, bukan begitu. Jadi begini dulu saya mengenal dunia internet saat jenis konten yang populer karena hanya satu-satunya yang paling terjangkau, yaitu text atau artikel yang disajikan dalam platform blog. Saat itu yagn berjaya adalah blogger-blogger muda dengan penghasilan puluhan hingga ratusan juta perbulan.

Tahun-tahun kemarin influencer di Instagram berjaya dengan puluhan hingga ratusan ribu follower hanya bermodalkan foto-foto bagus atau seksi. Kemampuan menulisnya? Nggak jaminan, dan tidak perlu lha wong bukan blogger.

Saat ini content creator video di Yotube sedang naik daun dengan penghasilan yang bahkan bisa mengalahkan blogger-blogger muda dulu. Dan belakangan ini content creator di Tiktok pun sedang berjaya. Lalu bagaimana blogger-blogger yang dulu berjaya saat ini? Tidak banyak yang bisa berjaya di Youtube, karena jenis content-nya beda.

Yang berjaya dengan mudah di Youtube saat ini adalah anak-anak multimedia yang pintar editing video atau orang-orang non multimedia yang tidak terlalu pintar editing namun mengangkat kisah original dan menarik untuk didokumentasikan dalam video.

Apakah blogger lalu tidak ada yang berjaya saat ini? Masih banyak, namun kan yang pamornya sedang naik adalah Youtube sehingga gembar-gembor penghasilan besar adalah Youtuber. Selain itu untuk menjadi Youtuber sukses rata-rata kan harus menunjukkan sosok personalnya, beda dengan pemain adsense web yang tidak perlu menunjukkan personalitasnya selama tulisannya enak dibaca dan SEO friendly dimata Google.

Namun Blogger yang jatuh karena masa kejayaannya sudah lewat juga banyak, tidak bisa lagi membangun blog yang ramai pengunjung. Hal tersebut terjadi bisa karena algoritma Google saat ini sudah lebih kompleks atau minat&kemampuan menulisnya yang sudah hilang.

Dari kisah-kisah yang saya lihat kesuksesan sebuah content creator adalah karena kemampuan mereka membuat sebuah content sejalan dengan jenis content yang sedang banyak diminati pasar. Editor yang hebat, muncul saat jenis content video diminati. Blogger hebat, muncul dulu saat content article hanyalah satu-satunya yang dapat dijangkau banyak orang. Jarang namun ada yang tadinya dari Blogger bisa melanjutkan kejayaan-nya di era Yotube.

Jadi kuncinya adalah Luck atau usaha bagaimana menghasilkan content yang menarik banyak audience sesuai dengan kemampuan skill dan modal kita. Bagi beberapa orang yang memiliki skill tertentu yang pas dan modal yang cukup karena terlahir dari keluarga yang berada adalah keberuntungan. Namun bagi yang tidak seberuntung itu, saya pikir kuncinya adalah mendekat kepada yang sudah sukses untuk belajar agar tertular suksesnya dalam bidang industri content digital.

Standard
Google Ads

Filter Target Audience Manually di Google Ads

To the point. Saya mencermati laporan Google ads secara geografis lalu muncullah nama-nama daerah yang selama ini menjadi sumber klik iklan saya. Padahal hasil wawancara dengan konsumen selama ini mereka bukanlah datang dari daerah tersebut, kalau pun ada hanya satu-dua.

Lalu saya kecualikan daerah-dearah dengan jumlah penyumbang klik terbesar tersebut karena pada kenyataannya amat sedikit konsumen yang datang dari daerah tersebut. TUJUANNYA: Agar google lebih men-sugest iklan kepada audience dari daerah lain, sehingga potensi transaksi lebih besar. Kalau bisa ditarget lebih spesifik maka hasilnya pasti lebih bagus, misalkan: Orang yang tertarik dengan wilayah A dan sedang tinggal di wilayah B. Sayangnya setting tersebut belum dimungkinkan di Google Ads untuk saat ini.

Oh iya, strategi bidding yang saya gunakan adalah maximize Clicks ya. Jadi sangat wajar jika algoritma iklanya adalah sekedar memaksimalkan jumlah klik iklan, padahal orang-orang dari daerah tersebut kurang sesuai dengan jasa yang kita tawarkan. Nah fungsinya kita mengenal secara akurat konsumen kita adalah kita dapat mem-filter secara pasti karakter mana yang akan kita raih berdasar dari karakter konsumen yang sudah ada sebelumnya.

Standard
Google Ads

Google Ads: Ganti Domain URL iklan Berkibat CPC melonjak

Dengan alasan penggantian nama domain maka CPC iklan Google ADS tiba-tiba melonjak drastis. Sebenarnya akibat tersebut sudah saya pertimbangkan sebelumnya, namun karena tidak ada solusi lainnya maka keputusan final untuk mengganti domain tetap dilakukan.

Mengganti nama domain website bisa terjadi pada usaha apa pun, yang biasanya mendasari adalah perubahan nama usaha atau mengganti nama domain dengan yang lebih SEO friendly. Namun bagaimanapun secara logic penggantian domain pasti akan berdampak terhadap nilai bidding CPC.

Analisa saya sekalinya kita mengganti nama domain yang dimasukkan dalam form unit ads, maka algoritma google ads akan ter-reset seperti di awal. Dasar analisa tersebut adalah nilai CPC-nya melonjak kembali hingga 2 kali lipat seperti saat awal-awal dulu setup campaign, AD group dan unit ads.

Sebenarnya alternatifnya ada dua jika kita mau mengganti nama domain website yang sudah kita promote di google ads:

  • Ganti nama domain di unit ads yang akan berdampak pada kenaikan CPC, atau
  • Redirect 301 dari url domain lama ke domain baru. Dengan syarat tanpa ada ubahan pada setingan iklan.

Saya belum tahu apakah strategi kedua ini bisa dilakukan, apalagi kalau sudah menginstall Google Analytic. Tapi yang jika kita mengajukan perubahan atau pembuatan unit Ads baru diketahui url yang kita masukkan redirect ke domain lain maka iklan tidak akan disetejui oleh Google.

Standard
Buku Harian Wordpress

Tahap reDesign Website yang penting langsung keren?

Saat ini saya ingin melakukan redesign sebuah website saya. Bagi orang-orang awam mereka mengira untuk create sebuah web yang penting cukup punya dana, kemudian kasih foto, kasih info produk secukupnya jadi deh. Bagi saya tidaklah sesederhana itu.

Tapi bagi web desainer pemilihan huruf(typography), color scheme, layout dan content foto yang detail ada yang ada dipikiran mereka. Namun sesungguhnya tidak perlu sedetail itu juga dalam berpikir mengenai web desaing bagi orang awam.

Di Mulai Dari GOAL

Bagi saya untuk memulainya adalah dengan memikirkan goalnya. Tujuan dari sebuah halaman website itu nantinya untuk apa sih, itu yang harus dipikirkan sebagai dasarnya.

Lalu dipikirkan siapa sih pangsa pasar, calon visitor website tersebut. Anda tidak akan membuat website dengan color scheme warna-warni jika website anda adalah untuk perusahaan yang berdagang alat-alat industri bukan?

Setelah itu baru layout, alias struktur content yang akan kita sajikan. Jika itu sudah baru mulai berpikir ke hal yang detail dan jelimet seperti typography, color scheme, mobile responsive, foto dan lain-lain.

Studi Kasus Redesign Website

Sebelumnya saya telah menyebutkan bahwa saya ingin melakukan redesign website usaha transportasi saya yang dimulai accidentally karana pandemi Koped19. Kalau begitu cukup desain ulang saja tampilannya dengan yang lebih bagus bukan?

Jawabannya bukan! Pondasinya diawali dengan GOAL apa yang ingin dicapai.

Latar Belakang: Jadi website yang saat ini adalah website sederhana. Sangat sederhana sekali, karena hanya menggunakan theme wordpress bawaan. Alasan saya dulu adalah karena untuk menguji pasar apakah ada respon dengan jasa yang saya tawarkan. Ternyata ada dan cukup baik. That’s it.

Nah dalam perjalanannya ternyata respon pasarnya baik. Walaupun rasio antara transaksi vs klik iklan menurut saya belum terlalu bagus, tapi usaha ini sudah bisa untung.

Karena itu Goal saya yang pertama saya dalam redesign ini adalah memperbaiki tampilan halaman landing page agar rasio orang yang datang ke web dan melakukan chat WA lebih besar, sehingga jumlah transaksi juga meningkat. Caranya adalah dengan tampilan yang lebih profesional namun tetap menyentuh sisi personal pengungjung web.

Goal yang kedua adalah, ada penambahan bisnis model. Dari yang tadinya usaha jalan sendiri ternyata juga bisa di subkan ke pihak lain. Sehingga ada yang perlu ditambahkan dari halaman landing page website tersebut.

Batasan Masalah

Dalam hal desain web saat ini yang saya pegang adalah mobile first. Tidak usah jelimet dalam hal desain web seperti awal-awal di tahun 2010. Minimalis dan yang penting adalah tampilan pada device mobile. Titik.

Desain bukan hanya tampilan tapi termasuk content di dalamnya, copywrite dan foto yang baik sangat mendukung desain yang bagus. Lalu kembali lagi, minimalis namun nyaman saat dilihat di mobile browser.

Semua itu didasarkan data bahwa pengguna internet di Indonesia didominasi oleh mereka yang menggunakan perangkat mobile. Terlebih lagi ternyata pengunjung website saya selama ini justru didominasi oleh pengguna Iphone dengan safari browser-nya, itu yang bikin sedikit terkejut.

Kesimpulan Redesign Website

Dalam penjabaran singkat di atas saya menjabarkan dalam hal redesign pondasi awalnya justru bukan di dalam hal teknis desain-nya. Namun analisa kebutuhannya.

Saya sudah lama meninggalkan mindset desain website bagus yang mendetail dengan typography, color schem bagus, ukuran jarak pixel yang sempurn dan grafis bagus adalah segalanya, itu mindset saat menjadi web designer.

Bagi para pelaku UMKM mindsetnya adalah website minimalis, rapih saat tampil di mobile device dan yang terpenting content-nya dapat meyakinkan potenttial buyer untuk membeli produk/jasa kita.
Credit image: @sigmund Unsplash.

Standard
economy

Update bulan 8 Pasca Cov-19 Terhadap Kehidupan Saya

Saya harus membuka artikel kali ini dengan kalimat yang sedikit membosankan: Setalah tidak lama nulis di blog, akhirnya hari ini saya menulis juga. Mencatatkan bagaimana Covid-19 berdampak terhadap kehidupan keluarga saya.

Dibulan kedua atau ketiga saya sudah tidak memiliki website yang menghasilkan income lagi, semua sudah terjual. Akun Adsense lawas yang selama ini menghasilkan pun telah dijual. Bisnis Mobil bekas pun tiarap semua.

Usaha yang dijalankan istri juga terdampak secara langsung. Dua atau tiga bulan diawal Covid mendera harus terpaksa tutup, dengan tetap membayar gaji pokok para karyawan agar tidak ada PHK(walaupun akhirnya 2 personil mengundurkan diri).

Setelah masuk pun, tamu masih sepi dan terpaksa karyawan di rolling hanya masuk 1 orang perhari di hari biasa dan 2 orang di akhir pekan.

Memulai Bisnis Baru

Di bulan Juni 2020 saya memulai usaha baru yaitu jasa carter mobil. Bermula dari membaca ada permintaan di sebuah group Fesbuk untuk mengantar ke bandara Adi Sumarmo, saya japri dan tawarkan ternyata harga yang saya tawarkan cocok.

Dari situ saya menyadari ada peluang untuk bisnis tranportasi khusus ini. Kemudian saya coba iklan di OLX ternyata ada respon, orderan kedua saya yang di dapat dari iklan OLX adalah pengantaran ke Pemalang dari Bulak Sumur, Sleman.

Berawala dari situ setelah beberapa kali orderdan dari OLX maka saya beranikan diri untuk membeli domain dan membuat website. Website WordPress based ala kadarnya, domain beli dengan ekstensi .online seharga Rp 10.000 untuk tahun pertama, dan hosting pakai yang sudah ada selama ini. Rencana saya untuk digeber dengan promosi berbayar alias iklan.

Dengan modal alakadarnya tersebut pikir saya kalau ternyata tidak laku pun tidak masalah. Akhirnya dalam hitungan 2 aau 3 hari website jadi, dan di bulan Juli saya iklankan.

Setelah di iklan ternyata ada respon yang cukup baik, walaupun biaya iklan cukup tinggi karena ada kekeliruan setting. Saya buka lagi catatan beberapa tahun silam juga video tutorial tentang program periklanan Google Ads yang pernah saya pelajari beberapa tahun silam.

Setelah diiklankan ternyata ada permintaan, omsetnya tembus 3,6 juta. di bulan Agustus. Bulan september turun jadi 2,8 juta karena ada side project saat itu. Dan di bulan oktober kemaren omsetnya tembus lebih dari 5 juta.

Dari yang tadinya saya sekedar berpikir untuk menyambung hidup lalu saya menjadi berpikir bisakah bisnis ini di Scale Up?

Scale Up Bisnis Transportasi

Segmen saya sasar dalam bisnis ini bukanlah segemen wisatawan yang mau sewa mobil lepas kunci. Berbeda dengan segmen tersebut yang lebih sensitf dalam memilih mobil, segmen yang saya layani adalah mereka yang membutuhkan jasa transportasi.

Asalkan mobilnya bersih, ada AC-nya, yang bawa nyaman dan harganya murah maka mereka okay saja.

Nah kendala untuk scale up itu ada point terakhir yang saya sebutkan di atas. Harga murah memang menggoda, apalagi murah namun pelayanan prima. Tapi biaya produksi jasa untuk mendukung hal tersebut nyaris mustahil untuk diaktualisasikan.

Lah buktinya sudah berjalan 4 bulan ini bisa? Jawabannya di tulisan berikutnya mengenai perhitungan kalkulasi bisnis transportasi.

Standard
Google Ads

Pangsa Tayang Iklan Google Ads

Sebelumnya hanya ingin memantau posisi iklan, jadi arange ulang kolom laporan. Tapi kok nemu kata2 Pangsa Tayang. Sebenarnya apa itu pangsa iklan ads?

Jangan berharap nemu jawabannya dalam tulisan ini, karena tulisan ini hanya curhatan bukan berbagi informasi.

Karena sebelumnya dashboard Google Ads saya menggunakan bahasa Inggris jadi agak aneh dengan istilah Pangsa Tayang ini, banyak istilah di seputaran laporan adsense atau adwords(sekarang google ads) yang justru membingungkan jika di-Indonesia-in.

Kolom yang berhubungan dengan pangasa tayang(selanjutnya di singkat PT) iklan juga banyak. Tapi saya coba mengkatifkan 6 kolom yang berhubungan dengan PT, yaitu PT Teratas Penelusuran, PT Penelusuran Teratas Yang Hilang(peringkat), PT Penelusuran Yang Hilang(anggaran), PT Yang Hilang Penelusuran(peringkat), PT Penelusuran, PT Teratas Penelusuran Yang Hilang(anggaran).

Bingung-bingung deh 😀

Apa itu Pangsa Tayang?

Kita kupas dulu apa itu Pangsa Tayang di laporan Google Ads, nggak usah dalem-dalem kupas kulitnya aja dulu. Ternyata bahasa inggrisnya adalah Impression Share.

Dari kata Impression aja sudah paham bahwa ini adalah mengenai iklan yang muncul atau tampil. Yang oleh google disebut dengan bahasa baku yaitu tayang.

Google menjelaskan lebih detail sebagai berikut:

Impression share (IS) is the percentage of impressions that your ads receive compared to the total number of impressions that your ads could get.

By: Simbah Gugel

Cara perhitungan PT yang berupa angka presentasi adalah jumlah iklan anda yang ditayangkan dibagi dengan jumlah total tayangan layak yang bisa didapdatkan iklan Anda.

Perhatikan baik-baik klaimat yang saya garis bawahi di atas, bahasa penjelasan Gugel itu memang terlalu baku dan membingungkan(apa karena otak saya yang lemot). Tapi gantilah kalimat tersebut dengan potential impresion(potensi/kesempatan iklan anda untuk ditayangkan).

Lalu Total Tayangan Layak atau sederhananya yang saya sebut dengan Potential Impression itu parameternya apa? NGGAK JELAS, tapi google hanya menjelaskan dengan kata-kata berikut:

“Tayangan yang layak ditaksir menggunakan banyak faktor, termasuk setelan penargetan, status persetujuan, dan kualitas.”

Ini penjelasan versi saya: Jadi misal anda set iklan keyword “ANU BUDI” untuk tampil di orang yang mencari dari provinsi Pluto, dan hanya muncul dari pencarian device di smart phone.

Maka jika ada 1000 pencarian yang memenuhi kriteria tersebut itulah yang saya sbeut dengan potential impression. Dan jika ternyata iklan anda hanya ditampilkan 400x kali maka Pangsa Tayang iklan anda adalah 400/1000= 40%.

Begitu kira-kira pemamahan dasarnya. Next kita bahas detail masing-masing laporan yang berhubungan dengan Pangsa Tayang.

Lalu Apakah Semakin Tinggi PT Semakin Bagus?

Semakin tinggi ya tentu semakin bagus. Dah gitu aja kalau pertanyaannya hanya itu. 😀

Cara naikan presentase PT yang paling signifikan adalah naikin anggaran harian iklan Google Ads anda. Ketika saya set anggara iklan harian saya di IDR 50k dan ternyata sama Google di bablasin sampe 90K-100K perhari(ancuk tenan kok) maka PT kampanye(campaign) iklan saya berada paling tinggi dibandingkan kompetitor.

Namun begitu anggaran iklan harian saya turunkan ke IDR 30K perharinya maka presentase PT langsung anjlok. Seperti gambar berikut:

Langsung anjlok jauh kan. Bussines.site yang paling atas adalah iklan yang mengarah ke google my bussines. Yaitu mereka yang ngiklan di Google Ads tapi tidak memiliki landing page berupa website sendiri.

Semakin Rendah PT Maka Performa Iklan Buruk?

Hmmm,, saya tidak tahu karena saya belum ahli dalam bidang ini. Tapi yang dapat dipetik dari pengalaman adalah jumlah pangsa tayang yang tinggi berarti iklan anda akan lebih sering muncul pada kriteria orang-orang tertentu(target audience) yang telah anda set sebelumnya.

Jika anda menge-set target audience yang kurang pas maka pangsa tayang yang tinggi pun sia-sia. Terbukti dengan belanja iklan yang turun drastis, turun hampir tinggal 1/4 maka saya sama-sama hanya mendapat 2 conatct via WA(target konversi).

See… jadi tidak selalu bagus. Yang lebih penting justru target audiens yang sesuai dengan apa yang anda mau tawarkan, dan selera mereka sesuai dengan produk anda. Atau kata lainnya adalah RELEVANSI.

Semakin relevan iklan – landing page – produk yang anda tawarkan dengan target audience yang membutuhkan maka semakin baik. Walau budgetnya kecil dan kalah di rasio PT. Ini menurut saya pribadi loh.

Oh iya saya sendiri tidak tahu apakah pangsa tayang iklan ini hanya muncul di iklan hasil penelusuran atau juga iklan jenis display. Sepertinya sih iklan jenis display ikut menjadi dasar data perhitungan.

Buktinya kemarin itu selain merubah(menurunkan) anggaran iklan harian saya juga merubah iklan menjadi hanya tayang di hasil penelusuran google maka akan presenstase Pangsa Tayang langsung anjlok.

Standard
Buku Harian Kehidupan

Kisah Sebuah Value Dari Seorang Ayah Tentara



Habis nonton sharing seorang anak yang ayahnya hanyalah seorang tentara berpangkat rendah. Namun karena buku-buku bacaan dari sang ayah tersebut adalah buku-buku luar negeri yang berbobot maka pemikirannya melebihi dari pemikiran seorang tentara yang hanya berpangkat rendah.

Sebenarnya kisah inspiratif bagaimana seorang tentara mendidik anaknya ini bukanlah pertama kali yang saya dengar. Tapi kali ini saya amaze saja karena dijabarkan dengan lebih detail dan hasilnya juga nyata.

Bagaimana seorang tentara dengan pangkat terakhirnya adalah Peltu mendidik anaknya harus pintar bahasa Inggris. Padahal keluarganya bukanlah tinggal di kota besar dan linggkungan yang terbiasa menggunakan bahasa Inggris. Tapi di zaman tersebut Sang Tentara sudah menekankan anaknya untuk bisa berbahsa Inggris. Lalu anak-anaknya tersebut di kurususkan ke orang India yang pandai berbahasa Inggris.

Lalu bagaimana pula Sang Tentara itu memberikan kaset motivasi berbahasa Inggris saat anaknya menempuh pendidikan tinggi. Hal yang jarang terjadi, apalagi ayahnya bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi.

Ajaran lainnya adalah kedisiplinan. Ya tentu sebagai tentara hal itu menjadi ajaran yang lumrah. Tapi kelak anak tersebut menikmati value-value yang diajarkan oleh sang ayah tersebut.
Standard
Buku Harian Kehidupan

Kata-kata Mengantarkan ke Sebuah Tujuan

Setiap perkataan atau kata-kata dalam tulisan akan mengantarkan kita ke arah sebuah tujuan tertentu.

Jangan berkata jika tidak tau arah tujuannya, lebih baik diam saja.

Pikirkan arah tujuannya dalam setiap sebuah tulisan atau perbincangan, baru pikirkan kata-katanya.

Kata-kata adalah senjata yang elegan dan berdampak besar. Itu seperti jurus bela diri, yang dapat mempengaruhi lawan.

Orang-orang besar berjuangan dalam kata dan perbuatan. Kata + Ilmu + Perbuatan/amalan adalah perpaduan sebagai senjata yang sangat ampuh.

Standard